Senyuman Bapak Penjual Krupuk Opel

Suatu ketika aku harus pulang malam oleh suatu tugas yang harus selesai malam itu. Ada perasaan sesal di hati, bahwa malam ini adalah malam kedua aku harus pulang malam dan harus tidak bertemu anak-anak dirumah untuk menemani mereka  mengerjakan PR. belum lagi membayangkan pekerjaan di rumah yang pasti belum ada yang menyentuh. kamar tidur berantakan, dapur yang berantakan dan lain-lain yang masih harus dikerjakan sekalipun kondisi sudah lelah. terbayang kembali pekerjaan di meja kantor yang belum juga selesai. Sedikit sedih di hati..menganggap diri terlalu berlebihan dalam totalitas terhadap tugas yang ini.

Hujan rintik-rintik, menambah bad mood di hati..angin dingin yang menusuk tulang.. Tiba-tiba sepeda motor yang aku kendarai oleng.. aku berhenti dan menengok ban. Ada apakah gerangan.. walah-walah.. kok ya gembos to ya.. pasti bocor neh. hhh…

Aku berhenti, dan tengok kanan-kiri.. sepi sekali.. dimanakah ada orang yang bisa tambal ban..malam-malam begini apalagi hujan rintik-rintik.. sudah komplit penderitaan malam ini. lalu aku lihat kerlip kecil di ujung jalan. sedikit harapan terbetik di hati.. syukurlah, masih ada kehidupan.

Ternyata sudah ada sepeda yang mendahuluiku, bernasib sama. aku menghela napas panjang dan duduk nunggu antrian.

Aku duduk persis di depan bapak yang punya sepeda. aku liat bapak itu ternyata sudah tua sekali. bapak itu memeluk satu kantong plastik besar krupuk opel. heran, jam segini masih ada orang ider krupuk opel ? bapak itu menengok kearahku. tersenyum. aku membalasnya juga.

‘ Mau Krupuk, bu..?’

aku menjawab dengan tersenyum.  aku merasa tidak perlu menjawabnya. karena yakin, bapak itu pasti hanya awu-awu menawari. gak mungkin serius. malam-malam, hujan-hujan, nawari krupuk… gak mungkin kan..?

aku perhatikan bapak sepuh itu.. wajahnya setengah basah. pasti tadi juga kehujanan. tangannya sedikit gemetar memeluk kantong plastik krupuknya.

‘bapak kok belum pulang, ya, pak..’ tanyaku iseng

‘belum, bu. hari ini tidak banyak yang beli krupuk, jadi sekalian saja’

‘sekalian apa, pak’

bapak itu tersenyum. ‘sekalian gak pulang’

‘lo memang rumahnya diman, pak..?’

‘Gresik, bu’

‘Gresik..? naek sepeda..?’

bapak itu tersenyum.

aku perhatikan bapak itu lagi. ke Gresik..? naek sepeda..?

‘setiap harikah pulang pergi ke Gresik?’

‘tidak, 2 hari sekali’. jawabnya sambil dengan tatapan mata yang jauh..

Singkat kata, terjadilah percakapanku dengan beliau tentang banyak hal yang berhubungan dengan kegiatan beliau. sebagai penjual krupuk. karena dia hanya buruh tani, sehingga ada masa kosong, dimana dia tidak terpakai. sudah tidak ada anak yang menjadi tanggungan beliau. tinggal dia dan istrinya. istrinya masih ada di desa melakukan kegiatan yang bisa dilakukan di desa. sedang beliau mencari nafkah seadanya.

Dengan heran aku bertanya-tanya, apakah tidak ada pekerjaan yang lebih mudah untuk beliau? dengan jenis pekerjaan dan lokasi yang sesuai dengan usia. Kemandirian membuat beliau tidak mau ditopang oleh siapapun. tapi dengan kondisi seperti ini, apakah itu aman untuk beliau.

Tiba-tiba teringat olehku, ibu dan bapakku. hhhh.. apakah aku akan setega ini membiarkan ibu dan bapakku bekerja ? aku menggelengkan kepala sendiri. Tiba-tiba aku teringat pada diriku sendiri. aku tertawa dalam hati. ya.. bukankah aku juga pulang selarut dia. dengan banyak pikiran dan segalanya. Tapi aku masih muda. sekalipun sebagai perempuan pulang selarut ini sudah hal yang menyesakkan dada buatku. ternyata aku masih  jauh sekali beruntung.. dibandingkan bapak ini. apakah sampai tua aku masih harus bekerja seperti bapak ini..

Kembali aku lakukan ‘diskusi’ bersama beliau.

Luar biasa. Beliau ternyata menikmati jualan krupuknya. Terutama jualan di SD-SD. Ternyata tidak macam-macam. Tidak berniat untuk beralih profesi. Beliau bersyukur masih punya kegiatan, masih bermanfaat dan sebagainya.. dan tidak berusaha cari kegiatan yang mudah.

Jam 11.00 malam, baru aku bisa melanjutkan perjalanan. terpikir olehku bapak penjual krupuk opel itu. hhh.. tidak berguna keluhanku tadi. kesulitan hidup yang masih jauh dari kesulitan hidup bapak penjual krupuk opel. Tapi beliau sama sekali tidak merasa sulit. dia menerima jalan yang ada di depannya sebagai jalan yang harus ditempuhnya. tak pernah dia mencari jalan pintas, sekalipun bisa saja dia dapatkan. dia menjalani jalan yang ada di depannya. tak peduli menurut orang lain jalan itu adalah jalan yg sulit dan panjang.

apakah aku masih harus mengeluh dengan jalan di depanku yang harus aku jalani.

Trimakasih Allah. atas cermin yang Kau hadapkan pdku malam ini. Sehingga aku bisa melihat diriku sendiri dengan lebih baik.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s