The Greatest Love of All

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children’s laughter remind us how we used to be

Everybody’s searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone who fulfilled my needs
A lonely place to be
So I learned to depend on me

I decided long ago, never to walk in anyone’s shadows
If I fail, if I succeed
At least I’ll live as I believe
No matter what they take from me
They can’t take away my dignity
Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children’s laughter remind us how we used to be

 And if, by chance, that special place
That you’ve been dreaming of
Leads you to a lonely place
Find your strength in love

(Whitney Houston)

Suatu ketika, anakku yang nomor dua sudah saatnya masuk sekolah SD setelah “lulus” TK. Dia bahagia, karena sudah SD. seperti teman-teman bermainnya yang lain yang sudah lebih besar darinya. Hari-hari yang jadi bahan pembicaraannya adalah tentang betapa senangnya dia segera jadi anak SD kelas 1. Semua perlengkapan sekolahnya sudah dia siapkan dengan semangat.

Maka pagi itu, berangkatlah dia dengan penuh semangat, ke sekolah.. tidak mau diantar, dia bilang, malu, sudah SD.

Entah apa yang terjadi pada saat itu. Karena besoknya, dia menangis, dan berkeras nggak mau sekolah. Wah..gawat.. something wrong sudah terjadi. dan aku menyesal tidak menyertainya di hari pertama, karena yakin pada semangatnya. maka hari itu aku mengalah, dan sampai beberapa hari kemuadian aku mengalah untuk ikut duduk disampingnya selama sekolah.

Disinilah awal semua itu terjadi.

Betapa terkejutnya aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri pola pengajaran di SD anakku. SD Negri terbaik di kompleks SDN disini, di dekat rumahku. Yang dianggap sebagai SD terbaik, ternyata menggunakan metode seperti ini.

maka, majulah aku ke kepala sekolahnya. untuk menyatakan beberapa hal keberatanku dalam proses pembelajaran di kelas anakku. bagaimana ‘sang Guru’ menggunakan metode menebar ketakutan di murid-murid baru agar dia bisa menguasai kelas. luar biasa..

lalu yang lebih luarbiasa lagi adalah dengan tanpa ringan, ibu kepala sekolah mengguruiku, dengan bertanya, apa yang aku harapkan dari seorang guru SDN yang juga manusia lengkap dengan semua masalah kehidupannya. bahwa guru juga punya keterbatasan. Dan ini SD Negri yang lengkap dengan semua permasalahan dan kekurangannya. masih menurut Kepala sekolahnya, masih untung bahwa anakku dapat masuk SDN yang terbaik di lokasi ini dengan tanpa pembayaran SPP dan lain-lain yang mahal. memang sih.. beliau mengatakannya dengan cara yang halus dan dengan cara bersikap seolah : aku adalah orang yang tidak tau diuntung.

Aku pulang dengan marah. Semua orang di rumah ternyata berpemahaman sama dengan ibu kepala sekolah. Aku lebih-lebih marah terutama pada diri sendiri karena ketakberdayaan untuk menolong anakku. dalil yang di kemukakan orang-orang disekitarku adalah bahwa masalah anakku sudah lumrah. memang aku mau berbuat apa. anak memang harus tau kenyataan bahwa kehidupan ini, kehidupan senyatanya yang ada di lingkungan terdekatnya adalah kehidupan keras seperti ini. anak harus belajar survive terhadap hambatan yang datang untuknya. Bila aku memindahkan anak ke sekolah yang menurutku jauh lebih baik, maka akan berakibat anak akan selalu lari dari masalahnya, anak tidak belajar menerima kekurangan lingkungannya,..dll..dsb..dls…

aku memang mengalah karena kalah suara. akhirnya..aku memang lebih mendampinginya menghadapi kesulitannya di dunia sekolahnya sendiri. sekalipun itu mengakibatkan watak sensitif anakku, menjadi watak keras dan bertahan. aku berusaha bertahan sebagai yang berwatak air dengan harapan suatu ketika dia menyadari bahwa menjadi batu tidak selalu nyaman, bahwa kadang menjadi airpun dapat mencapai tujuan.

Dan sejak itu, hatiku selalu gelisah oleh pertanyaan, seberapa banyak anak SD yang memiliki sensitifitas seperti anakku. yang harus bergulat dengan ketakutan terhadap gurunya. Bagaimanakah cara orang tuanya menghadapi. seberapa lama ketakutan terhadap proses pembelajaran ini harus jadi hantu anak-anak. Benarkah guru-guru itu sedemikian dalam tekanan dan permasalahannya. Seberapa banyakkah permasalahan mereka sehingga sampai harus menjadi orang yang berubah dari seorang guru yang berimej halus dan lembut menjadi seorang raksasa yang tidak boleh dikalahkan.

dan akhirnya..aku hy sekedar hopeless…

Sampai akhirnya Tuhan menjawab kegelisahanku. kurang lebih satu tahun yang lalu, tiba-tiba kami terhimpun dalam satu wadah. Dengan keprihatinan yang sama. kami membuat wadah yang menetapkan diri untuk sedikit turut campur di bidang pemberdayaan dan motivator bagi guru-guru SD.  Agar bila memang sedemikian banyak masalah dan tekanan dalam melaksanakan proses pembelajaran yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan akademik, maka kami bisa membantu mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Maka, bergeraklah kami menuju SDN satu ke SDN yang lain untuk menawarkan Pelatihan ‘Design Thinking’. Pelatihan yang membuka wawasan mereka terhadap cara penyelesaian masalah secara kreatif dan kolaboratif. Kegiatan yang menuntut guru-guru SD sebagai peserta untuk total berlatih mengutarakan pendapat, berfikir untuk memberi ide terbaik, berlatih untuk menghargai ide teman sejawat, berlatih mendengarkan dan menghargai pendapat muridnya sendiri, berlatih menerima kritikan orang tua murid, bahkan pendapat orang-orang yang biasanya justru hanya mendengarkan dia bicara. yang lebih penting lagi adalah belajar memahami inti masalah dari sekian banyak masalah dan menyelesaikannya secara kreatif bahkan tidak dengan metode yang konvensional.

begitulah..

Setelah pelatihan yang dipusatkan di salah satu SDN di Surabaya, sambil menyiapkan pelatihan di Sidoarjo, saya sempatkan untuk berkeliling dari satu SD ke SD yang lain, untuk menyapa peserta yang kemarin ikut pelatihan bersama, sekedar silaturahmi sambil memberikan CD hasil pelatihan kemarin.

Selama beberapa hari keliling. Selama beberapa hari mendengarkan serta diskusi dengan guru-guru itu. Ada yang penuh semangat, ada yang berpengharapan, ada yang menunjukkan aplikasi pelatihan kemarin di ruang kelasnya yg penuh sesak, ada yang putus asa, ada yang cuek.

sekian sekolah, sekian masalah, sekian ketidakpedulian.. Sedangkan sekolah yang fullday berjamur dengan biaya yang mahal. bahkan tak terjangkau olehku. Pendidikan berbasis agama, Pendidikan berbasis perilaku, Pendidikan berbasis alam. Dengan SPP bisa ratusan bahkan jutaan rupiah. tentu hasil atau output nya juga tak diragukan..

tapi bukan itu masalahnya.

bukan itu yang jadi pikiranku. tapi adalah ketidakseimbangan jumlah antara yang sempet mengenyam pendidikan SD mahal yang bagus..dengan SD Negeri yang jauh-jauh lebih banyak.

kalau hanya memikirkan pemikiran tunggal dan umum..bahwa ini semua salah pemerintah.. maka nggak akan menyelesaikan masalah.

jadi..harus ada yang bisa kami lakukan… harus ada yang bisa kami lakukan.

 

4 thoughts on “The Greatest Love of All

  1. bu bleh konsultasi soal konsep yang saya ambil semester ini?saya ngambil judul perancangan pusat rehabilitasi anak nakal dan korban narkoba di wilayah surabaya dengan tema arsitektur prilaku klo menurt ibu judul ini gmn?cocok pa tdk……..????

    • Bisa se.. Tapi.. Kamu pastikan.. Mau rehab anak nakal atau rehab korban narkoba.. Itu 2 hal yang berbeda.. Pastikan dulu ya.. Pilih salah satu saja..
      Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s