Ke’empati’an Arsitektur

Profesi yang dapat berperan sebagai “Dewa”. sebagai perencana, pencipta dan pengarah “Lingkungan Binaan’. Betapa karyanya mampu mempengaruhi percepatan evolusi Sosial, Ekonomi dan Ekologi. Sebagai perencana, pencipta dan pengarah Lingkungan Binaan, Arsitek dalam berarsitektur mampu mempengaruhi perilaku, dan perilaku mampu mengubah tatanan sosial dan  tatanan sosial mempengaruhi perilaku berekonomi serta pola pikirnya mampu mempengaruhi sikap dalam memandang ekologi.  Konsep dalam berarsitektur sangat luas dan tak terbatas, bergerak dari bentuk yang imajinatif tanpa batas untuk menjadi bentuk yang real. Kekuasaannya menentukan dan menggiring nafsu manusia sebagai pengguna dan penikmat untuk eksplorasi kepuasan dalam berkarya yang bermakna menguasai sesama manusia. Masuk disisi mana saja, peranannya sangat signifikan. Masuk dari sudut mana saja peranannya mempengaruhi kualitas pengambilan keputusan. Arsitektur bukanlah seperti pisau,  yaitu sebagai obyek dimana penggunaannya tergantung dari pemegangnya. Arsitektur justru subyek, penentu tujuan dalam mengarahkan perilaku. Menyadari kemampuan Arsitek dalam berarsitektur dapat mempengaruhi evolusi sosial, ekonomi dan ekologi, maka kedigdayaan Arsitek harus benar-benar dilandasi dengan wawasan yang benar dan optimal tentang tujuan hakiki dalam berarsitektur.

Tidak ada yang salah dengan imajinasi berarsitektur yang futuristik, atau pengembangan teknologi bahan dan konstruksi untuk lebih mengoptimalkan fungsi berarsitektur. tidak ada juga batasan dalam berkarya dan berarsitektur. Hanya saja perlu diingat bahwa Kesuksesan berkegiatan berarsitektur pada hakikatnya adalah merencanakan, menciptakan dan mengarahkan Lingkungan Binaan menjadikannya sebagai LINGKUNGAN BINAAN YANG LEBIH BAIK. ‘Menjadi lebih baik’ yang benar-benar baik. baik untuk sosial masyarakat yang dapat menciptakan atmosfir berekonomi yang baik serta menciptakan suasana hidup dan berkehidupan yang baik oleh pemeliharaan ekologi yang menjadi tempat berkehidupan.

Bahwa pada akhirnya hakikat berarsitektur yang baik adalah Arsitektur yang berempati terhadap Ekologi agar Tempat hidup dan berkehidupan tetep terjaga, Arsitektur yang berempati terhadap Sosial agar pola perilaku dalam bersosialisasi mampu lebih menyadarkan dan memberikan kekuatan bersama untuk menjaga tempat hidup dan berkehidupan, dan Arsitektur yang berempati terhadap Konservasi untuk lebih dapat mengarahkan berkehidupan yang menghargai nilai-nilai luhur untuk menjaga landasan berperilaku dalam menjaga tempat hidup dan berkehidupan.

(bersambung…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s