Ke’empati’an Arsitektur (…seri 2)

Permasalahan besar adalah bagaimana cara mengubah paradigma pola berfikir para arsitek sebagai ‘Dewa’ atau ‘penguasa’ jagad raya di masa depan, untuk lebih mengedepankan ‘pemeliharaan’ tempat hidup dan berkehidupan lebih dari keinginan untuk unjuk ego diri sendiri sebagai makhluk yang diberi ‘kekuasaan’ untuk ‘mengubah’ jagad raya…

Dan itu terjawab oleh wajah-wajah di depanku… wajah dengan mata-mata yang menatap… Β Mata-mata dengan sinar yang bertanya-tanya… Wajah Mahasiswa arsitektur…

Nah…! itu dia jawabannya…

Mengubah paradigma berpikir para arsitek yang sudah mapan, perlu waktu, energi dan kualitas perdebatan yang luar biasa. Tapi aku berharap tidaklah demikian dengan para mahasiswa. Mereka masih terbuka untuk ‘ditulisi’ dengan catatan-catatan tentang “makna berarsitektur’ yang baik dan benar. Pada akhirnya, di pendidikan berarsitekturlah, di Kampus lah harapan untuk menitipkan pesan moral ini mampu dikaitkan.

Muatan apapun yang menjadi Visi dan Misi Jurusan Arsitektur, tidaklah penting, sepanjang inti dari muatan itu adalah menjadikan arsitektur sebagai ‘penyeimbang’ antara kemajuan teknologi dan berteknologi dengan kebutuhan alam dan bumi untuk tetap hidup secara mandiri, dengan sistem dan siklus yang sudah baku dimilikinya. Adalah lebih baik, bila para arsitek menempatkan arsitektur justru sebagai obat penawar, pencegah pengrusakan dan memperbaiki keadaan alam dan bumi yang tidak bisa diperbaikinya sendiri. Pengrusakan yang terjadi oleh keterputusan siklus atau sistem akibat ulah manusia dalam mengekploitasinya. Alangkah lebih bermakna, bila arsitektur lah yang menjadi penyambung siklus terputus tersebut, sehingga alam dan bumi dapat melanjutkan pemeliharaan mandiri kembali..

Arsitektur yang melayani kebutuhan alam dan bumi dalam menciptakan kehidupan bersama, pada intinya justru melayani kehidupan itu sendiri.

mudah kok…

bila kita terpaksa ‘meminta’ sesuatu dari alam dengan karya yang membebaninya, maka berikan sesuatu sebagai imbalan untuk menjaga keseimbangannya. bila karya kita menambah panas bumi, maka berikan penyejuknya. bila kita berkarya di atas tanah ambillah separo saja, jangan serakah. separonya..kembalikan ke bumi dengan mengoptimalkannya u kepentingan bumi itu sendiri. lengkapi dengan tanah yg bebas, air yang mengalir, udara yang dihembuskan kembali dan suara alam yang bisa diperdengarkan.

Jadi kita hanya berlaku adil, kok..

Mari kita mulai dari rumah kita sendiri…

8 thoughts on “Ke’empati’an Arsitektur (…seri 2)

  1. nice posting bu ririn.
    tapi sayangnya , untuk mengubah paradigma tersebut terhambat oleh cara penyampaiannya di kalangan “pendidikan berarsitektur”, sehingga “issue”nya tidak tersampaikan dengan baik dan benar, alhasil paradigma yang konvensional yang kembali membayangi pemikiran-pemikiran mahasiswa arsitektur.
    (*itu yang masih saya alami)

    Btw, ini dengan Bu Ririn DM ya ?
    bagaimana kabar ?πŸ™‚

    • he he he..Iya Anzar..ini bu ririn DM..he he he..komentar Anzar menggelitik bu ririn.. tentang pendidikan arsitektur yg tidak tersampaikan dengan benar.. kenapa..? apakah karena tema yang diangkat lebih kepada teknologi berarsitektur ya..bukan arsitektur yang ‘membumi’ ya..?
      mmg tidak mudah mengubah paradigma tersebut. sebenarnya..bu ririn senang dg komentar Anzar spt itu..sebab bg bu ririn…itu artinya Anzar sudah menyadarinya. nah..! gak terlambat kok untuk memulai berparadigma arsitektur yg benar. untuk diri sendiri..dan mulai saat ini.πŸ™‚

      • bukan mengenai tema atau apa yang disampaikan bu maksd saya, tapi lebih mengenai cara penyampaian yang implikasinya ke arah subyek yang menerima, sehingga “issue”nya tidak tersampaikan ke object nya bu…
        (*maap kalo ada kata2 yang salah, hehehe…..)

      • ha ha ha…=D anakku…
        saya rasa kamu sudah dewasa.. jangan terlalu terprovokasi pada cara penyampaian.. ambil saja apa yg disampaikan.. dan lengkapi dg pencarian dan perluasan sendiri…πŸ™‚
        jadilah orang yg obyektif. supaya ilmu itu gak lari dr kita.. kalo kita apriori duluan… ilmu itu akan lari dr kita..πŸ™‚
        jadi…
        biarpun penyampaiannya tidak ‘mengena’…
        nah…! krn sekarang sudah paham harus bagaimana…
        maka ambil ilmunya..dan kembangkan..
        supaya tetap bermanfaat..yg nantinya akan kembali juga ke diri kita sendiri.
        he he he…

  2. iya sih bu….
    tapi melihat kondisi seperti itu terjadi di lingkungan saya, rasanya sudah “antipati” duluan terhadap apa yang disampaikan bahkan parahnya sampai mengarah ke siapa yang menyampaikan…..
    terutama melihat objek2 disekeliling saya yang hanya menerima “itu” dengan “lapang dada”, rasanya sayang sekali atas waktu dan tenaga yang mereka berikan untuk menerima ” sesuatu ” yang saya rasa manfaatnya kecil sekali. sehingga yang terpikirkan selama ini hanya tuntutan formalitas belaka.
    (hehehe…kayanya pembahasannya sudah terlalu jauh dari postingan diatas ya bu…)

      • hahahhaa…..kasih tau gak ya…,?? =D
        hehehehe…. ya sepertinya bu ririn lebih tau mengenai hal ini….

        *back to topic
        mengenai asyiknya berparadigma mengenai arsitektur, ada ndak ya bu, komunitas atau perkumpulan yang membahas mengenai paradigma arsitektur yang benar atau malah yang membahas sisi lain arsitektur ?

      • he he he… aku belum tau kalo ada komunitas seperti itu..yg aku tahu ada komunitas internasional ‘green building’ yang py alat atau metode untuk mengukur ke ‘green’ an nya suatu bangunan. ada juga green map..komunitas yang membuat peta berdasar existing data tema tertentu di lapangan. selebihnya…semua tergantung dari individunya dalam menuangkan idealis desainnya.
        jadi tergantung Anzar..dari sekian teori tentang arsitektur itu…mana yang mau diikuti.
        gitu deh..πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s