Car Free Day

Bicycle bicycle bicycle
I want to ride my bicycle bicycle bicycle
I want to ride my bicycle
I want to ride my bike
I want to ride my bicycle
I want to ride my

Bicycle races are coming your way
So forget all your duties oh yeah
Fat bottomed girls they’ll be riding today
So look out for those beauties oh yeah
On your marks get set go
Bicycle race bicycle race bicycle race

Bicycle bicycle bicycle
I want to ride my bicycle bicycle
Bicycle bicycle bicycle
Bicycle race  —— Queen

Bersepeda di tengah jalan Darmo

Lagu tersebut langsung hinggap di kepalaku saat aku tanpa sengaja melewati jalan Darmo di minggu pagi kemarin. dan aku hanyut dalam keasyikan menyaksikan banyak tingkah dan kegiatan yang ada di jalan Darmo yang sedang ditutup untuk kendaraan itu.

Car Free Day…. Hari bebas dari mobil. Istilah yang digunakan untuk menutup Ruas Jalan Darmo di hari Minggu. Memang menyenangkan, bagi yang berkegiatan di dalamnya. Merasa bebas…merasa menguasai… jalan sepenuhnya digunakan untuk berjalan-jalan dan bersepeda tanpa cemas dilanggar mobil atau motor.

Suasana lengang di tengah jalan Darmo

Bila tujuan Car Free Day ini adalah  memberi kesempatan warga merasakan sensasi bebas dengan menjadikan  jalan utama sebagai public space, ya bolehlah. Lalu tujuan mulia Car Free Day sebagai    ‘mengurangi’ pembuangan gas emisi dari kendaraan bermotor, juga sudah selayaknya di dukung. tetapi mungkin perlu disempurnakan teknis pelaksanaannya.

Kenapa begitu?

Anggap saja begini. Bila sebelum ada Car Free Day diasumsikan sekian jumlah kendaraan yang berkegiatan di jalan di Surabaya pada hari minggu, dengan area kegiatan dianggap meliputi seluruh jalan di Surabaya, maka dengan berbagai kepentingan dan berbagai macam kegiatan warga di hari minggu, tetaplah sejumlah itu yang akan beroperasi di jalan raya di hari minggu di seluruh jalan di Surabaya. Penutupan salah satu jalan raya sekalipun itu jalan utama tidak mengurangi jumlah kedaraan beroperasi di jalan di Surabaya. Kendaraan hanya akan terpinggirkan di area tepian jalan yang disterilkan. Gas Emisi yang dikeluarkan tetap pada jumlah yang sama dan bahkan terkonsentrasi pada area tertentu, terutama di tepian area yang disterilkan. Sehingga pada area tersebut malah terjadi peningkatan gas emisi. Bisa jadi untuk area disterilkan menjadi terkurangi kadar polusi udaranya, tetapi di area tepiannya menjadi lebih banyak. sama dengan membersihkan ruang yang satu dengan mengalihkan sampahnya ke ruang yang lain. tidak menyelesaikan maslah secara keseluruhan. Jadi tujuan mulia untuk mengurangi jumlah gas emisi di hari minggu kurang tepat sasaran.

Apakah salah tujuan mulia Car Free Day ini…? Tidak… bahkan niat baik sudah sepatutnya didukung. hanya saja, mungkin perlu disempurnakan. Bila  totalitas pelaksanaan Car Free Day, untuk seluruh area di Surabaya dianggap tidak memungkinkan karena mobilitas tetap harus dijalankan, maka pembatasan bisa dilakukan dengan membatasi jumlah kendaraan yang ada di jalan.

Pada dasarnya jenis kendaraan di jalan ada 2 yaitu kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Bila Pemerintah Kota serius dengan niatnya untuk ‘meliburkan’ Kota Surabaya dari ‘kedzoliman’ gas emisi, maka yang dapat dilakukan adalah ‘mengurangi’ jumlah kendaraan yang beroperasi di jalan. Selain kendaraan semacam sepeda dan becak, Pemerintah Kota dapat memilih jenis kendaraan yang bersifat komunal, seperti bis kota untuk perjalananjarak (agak) jauh. Bisa jadi totalitas pelaksanaan Car Free day dapat dilaksanakan di seluruh Kota, dengan pelayanan mobilitas dilaksanakan oleh Kendaraan umum semacam bis (karena kita tidak punya Trem Listrik) saja. Car Free Day juga berlaku untuk kendaraan pribadi dan angkutan dalam Kota (bemo).

Pak Becak yang menunggu dengan sabar

Dengan demikian, untuk satu hari saja, Surabaya banyak melakukan pengurangan kegiatan kendaraan bermotor. Untuk hari itu, pak Becak bahagia mendapat banyak job…🙂 dan para sopir bemo dapat beristirahat sejenak. dan untuk pak sopir bis yang bertugas, dapat melayani penumpang dengan ramah, agar hari minggu itu dapat benar-benar menjadi hari bermakna ‘libur’ yang fresh.

Beranikah Pemerintah Kota Surabaya melangkah satu langkah lagi ke depan…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s