Ridha Sebagai Sumber Kebahagiaan

Sebuah nasehat yang aku dapat dari seorang Teman di IGI sore ini. Sangat dalem bermakna… rasanya sayang kalo tidak berbagi.
atas ijin beliau, bapak Hernowo Hasim, saya salin kembali nasehat yang beliau tuliskan untuk kita. Semoga bermanfaat.
Ridha Sebagai Sumber Kebahagiaan
Oleh Haidar Bagir
 
border-width: 0px;
 
Tersebut sebuah kisah tentang seorang raja dan pembantunya. Pada suatu hari, sang raja—ditemani pembantunya—pergi berburu. Tanpa diduga, sang raja mengalami kecelakaan, sehingga salah satu jarinya terpotong. Raja merasa sedih dan kesal. Tapi, dengan polos pembantunya meminta sang raja bersyukur atas kejadian yang menimpanya, sambil meyakinkan bahwa segala sesuatu yang menimpa kita pasti ada hikmahnya. Mendengar itu raja pun marah dan memerintahkan pengikutnya agar memenjarakan sang pembantu.
Pada kali yang lain, sang raja pergi berburu lagi, kali ini sendirian. Di tengah jalan, raja disergap oleh segerombolan orang dari suku primitif yang perkasa. Mereka menangkap raja dan bermaksud mengorbankannya untuk para dewa. Tapi, mereka membatalkan rencananya, dan melepas sang raja, karena melihat tangannya yang cacat. Persembahan bagi dewa mestilah manusia yang sempurna tubuhnya.
Sepulangnya dari kejadian itu, raja ingat kebenaran ucapan pembantunya, dan memerintahkan agar dia dilepas. Ketika bertemu pembantunya, raja menyampaikan terima kasih sambil berkata, “Masih ada ganjalan di hati saya sehubungan dengan ucapanmu. Benar ada hikmah dalam kecelakaan yang menyebabkan salah satu jariku terputus. Tapi, apa hikmahnya engkau dipenjarakan?” Sang pembantu menjawab, “Kalau Baginda tak memenjarakan hamba, niscaya hamba sudah dijadikani korban bagi para dewa.” Sikap menerima segala sesuatu sebagai kebaikan yang penuh hikmah inilah yang biasa disebut sebagai “ridha”.
Dalam berbagai kepustakaan sufi, ridha tak jarang disebut sebagai maqam tertinggi dalam perjalanan spiritual. Hal itu disebabkan karena ridha adalah manifestasi langsung dari keimanan. Sebuah dialog Rasulullah Saw dan para sahabatnya menegaskan hal ini.
“Apakah tanda keimananmu?” suatu kali Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya. Mereka menjawab, “Kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan ridha dengan qadha’ (ketentuan) Allah.” Kemudian Nabi Saw. bersabda lagi, ”(Kalian adalah) benar-benar orang- orang mukmin, demi Tuhan-nya Ka’bah.”
Betapa tidak? Melebihi syukur dan sabar, ridha tak lagi membagi-bagi apa yang datang kepada kita sebagai musibah (bencana) atau karunia (anugerah). Bagi orang yang telah memiliki karakter ridha, apa saja yang datang kepada kita (dari Allah) adalah karunia. Semua yang datang dari Allah sesungguhnya adalah baik. Perbedaan di antara keduanya dipercayai hanya pada kemasannya. Yang tampak sebagai bencana sesungguhnya juga karunia, hanya bungkusannya saja yang menjadikan ia tampak sebagai bencana. Dengan kata lain, ia hanya persoalan persepsi.
Seseorang yang memiliki sifat ridha percaya bahwa di balik segala (yang tampak sebagai) musibah sesungguhnya terdapat hikmah. Bahwa musibah tersebut hanyalah perantara bagi sampainya karunia kepada kita. Terkadang berfungsi sebagai pembelok jalan, justru menuju apa yang kita cari.
Dalam sebuah ayat Al-Quran, Allah mengajar kita untuk percaya bahwa:
“…Tak ada yang menimpa kami kecuali itu telah ditetapkan-Nya…” (QS At-Taubah: 51).
 
Sementara itu, dalam ayat yang lain, Dia berfirman,
“Apa-apa saja yang berupa kebaikan, datangnya dari Rabb-mu. Sedangkan apa-apa yang berupa keburukan, datang dari dirimu sendiri… (QS An-Nisa: 79).
Dengan menyejajarkan kedua ayat ini, dan berdasar keyakinan bahwa ayat-ayat Al-Quran tak mungkin bertentangan satu sama lain, kita dapat menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang sampai kepada kita adalah kebaikan. Yakni, segala sesuatu adalah datang dari Allah, dan segala sesuatu yang datang dari Allah adalah baik. Persepsi kitalah yang menjadikan (sebagian dari)-nya tampak buruk (yakni, sebagai bencana).
Nah, seseorang yang memiliki sikap-mental ridha, akan selalu dapat melihat melampaui kemasan, ke dalam hakikat segala sesuatu yang datang kepada kita, dan mempercayainya—bahkan menghayatinya—sebagai karunia (kebaikan).
Dalam kaitan ini, menjadi amat relevan hadis qudsi berikut:
 
“Aku adalah sebagaimana persangkaan (baik) hamba-Ku kepada-Ku.”
 
Kalau kita percaya bahwa segala sesuatu yang datang dari Allah itu baik, maka ia akan jadi benar-benar menjadi kebaikan bagi kita, karena sesungguhnya itu memang kebaikan. Persangkaan baik kepada Tuhan adalah sisi lain dari sikap ridha.
 
Pada puncaknya, orang yang memiliki sikap-mental ridha seperti ini akan selalu merasa rela—memang dari kata ridha-lah istilah ini berasal. Yakni, menerima apa saja yang datang kepadanya dan, dengan demikian, hatinya selalu merasa tenteram dan puas dengan apa saja yang terjadi pada dirinya. Tak lain, inilah perasaan bahagia. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw.:
”Sesungguhnya Allah Swt. dengan keadilan-Nya dan ilmu-Nya menjadikan kesejahteraan dan kegembiran dalam ridha dan yakin, serta menjadikan kesusahan dan kesedihan dalam keraguan dan kekesalan.”
Atau seperti kata seorang sufi, Abdul Wahid bin Zaid:
 
”Ridha adalah pintu Allah yang terbesar, surga dunia dan tempat istirahatnya para ahli ibadah.”[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s