Menjadi Akhir Perjuangankah Pepohonan ini dalam Memberi Keseimbangan Lingkungan

Ada yang berbeda, bila kita melewati Jalan Pasar Kembang Surabaya pada saat ini. Kawasan dengan kepadatan tinggi dan di dominasi oleh kampung-kampung lama, mulai dari kedung anyar, petemon, wonorejo, banyuurip, plemahan. Dalam radius itu sudah pepat oleh permukiman dan jalan. Kondisi yang padat mengingat Garis sempadan bangunan rata-rata nol meter. sebenarnya tidak dimaksudkan untuk memiliki GSB nol meter tetapi kebutuhan masyarakat terhadap tempat tinggal menyebabkan banyak kampung memilih untuk menbangun lahan rumahnya tak bersisa untuk ruang terbuka. Pada Kampung lama, tidak berlaku tata atur pola ruang ideal, dimana GSB seharusnya minimal 0,5 lebar jalan. pada Kampung lama, pemilik lahan atau rumahlah sebagai penguasa. Alhasil semakin padatlah kampung-kampung lama tersebut. Dan perkerasan menjadi solusi untuk suatu cara yang dianggap bisa berkesan ‘bersih’. Sama sekali tidak disadari bahwa ‘kesan’ bersih yang berarti hidup ‘tanpa’ tanaman tersebut sesungguhnya berakibat fatal buat diri sendiri dan orang lain. Satu-satunya harapan untuk ‘memiliki’ yang lebih dari itu, yaitu tanaman dan suasana nyaman yang diakibatkannya adalah taman kota. Suatu kebutuhan yang menurut mereka tidak perlu ikut ribet mengurus, tapi bisa turut menikmatinya.

Kepadatan kawasan Surabaya pusat sisi Barat

Pada dasarnya pemerintah sudah memahami kondisi seperti ini. Bahkan secara internasional hal ini sudah menjadi pembahasan. Bahwa kebutuhan terhadap Ruang Terbuka Hijau memang harus diatur secara total oleh perundang-undangan, mengingat kemampuan masyarakat dalam memahami dan bertindak ‘hijau’ tidak sepenuhnya dapat diandalkan. Ada standart-standart minimal yang harus dipenuhi oleh suatu kawasan atau Kota dalam memenuhi kebutuhan akan Ruang Terbuka Hijau ini agar lingkungan makro dapat tetap bertahan untuk tetap memberikan yang terbaik pada kita. Bahwa menurut perhitungan manusia (pembuat kebijakan), hanya diperlukan 30% saja kok dari total luasan kota yang harus menjadi RTH. itupun sudah mencakup semua jenis RTH yang dapat dilakukan o pemerintah maupun masyarakat dalam bentuk RTH publik maupun RTH privat. Dimana RTH publik itu luas juga cakupannya, tidak hanya taman, tapi juga sempadan jalan, sempadan pantai dan greenbelt. sedang RTH privat adalah ruang terbuka yang dimiliki oleh lahan masing-masing pemilik bangunan.

 Menurut beberapa penelitian yang dilakukan di Jepang dan beberpa penelitian di Indonesia, menyebutkan bahwa 1 hektar RTH yang dipenuhi pohn besar mengahasilkan :

  1. 0,6 ton O2 sehingga cukup untuk 1500 penduduk/hari.
  2. Mampu menyerap 2,5 ton CO2/tahun, menyimpan 900m³ air tanah/tahun.
  3. Mentransfer air 4000 liter/hari, menurunkan suhu 5°C-8°C,
  4. Meredam kebisingan 25-80%
  5. dan mengurangi kekuatan angin 75-80%.
  6. setiap mobil mengeluarkan gas emisi yang dapat diserap oleh 4 pohon dewasa (tinggi min 10m dengan batang berdiameter 10 cm, bertajuk lebar dan berdaun lebat).

Sangat signifikan bukan ? terhadap kontribusinya dalam menyuplai, mengelola,   memperbaiki bumi dan kehidupan kita yang ada di atasnya.

Dalam Kasus di jalan Pasar Kembang, dalam radius itu…tidak ada RTH publik yang berwujud taman. RTH publik yang berwujud taman terdekat adalah Taman Bungkul..Harapan untuk memenuhi keseimbangan lingkungan hanya dapat dilakukan oleh RTH privat. Tetapi RTH Privat pun sudah banyak yang hilang atau berkurang. Sehingga yang tersisa adalah sempadan jalan.

Pepohonan berjajar di tengah jalan Pasar Kembang

Suasana Jalan ketika Pepohonan masih ada

Usaha untuk menjadikan areal memanjang bekas rel Trem Listrik menjadi Ruang Terbuka Hijau di sepanjang jalan Arjuno yang merupakan terusan jalan Diponegoro dan jalan Kupang menjadi penyeimbang kondisi lingkungan di sisi barat Surabaya Pusat yang minim RTH ini. 5 tahun yang lalu, tanaman di RTH tengah jalan ini adalah Pohon Sono. Entah dengan pertimbangan apa, 5 tahun yang lalu,  pohon di sisi  jalan Pasar Kembang-Pasar Kupang diganti dengan Glodokan. sehingga ada sequence dari pohon Sono-Pohon Glodokan-pohon Sono dari arah jalan Diponegoro sampai Arjuno. Masih tidak masalah. Karena perubahan itu masih berwujud tanaman. Bagaimanapun, tidak dapat diingkari..RTH tengah jalan di sepanjang jalan Pasar Kupang-Pasar kembang-Arjuno adalah satu-satunya RTH yang nampak cukup luas dan rimbun terpelihara dengan baik dan segar.

Tahun ini memang ada perubahan besar di jalan Kupang. Pemerintah Kota telah mengubah pola transportasi disini, dengan niat memperbaiki kemacetan di ruas jalan Pasar Kupang yang merupakan simpul jalan PasarKupang-Pandegiling-Banyuurip. Bentuk pembenahan yang dilakukan adalah membuat jalan layang tengah jalan, seperti yang sudah dilakukan di pintu masuk selatan Surabaya.

Sehingga pembangunan itu harus mengubah keseimbangan yang sebenarnya masih kurang seimbang tersebut. Pohon-pohon harus ditebang karena jalan layang akan menempati posisi pepohonan itu semula berada.

Hilangnya pepohonan sebagai  elemen pelunak suasana langsung terasa.

Penebangan pohon yang sudah dimulai

hhh…sedih…dan speechless…

Kadang kala  sebagai warga kota, orang awam sepertiku memang tidak mampu memahami maksud pemerintah kota dalam menangani masalah-masalah kota kita, Kota Surabaya. Mungkin sudah bagus, membagi tugas dan pekerjaan pengurusan seluruh masalah perkotaan oleh dinas-dinas terkait. Tapi mestinya, dan tentunya tidak lantas seluruh dinas, masing-masing berpikir untuk kesuksesan dari sudut pandang kedinasan mereka sendiri. Apalagi membawa ke’ego’an mereka sendiri. Bukan kita tidak memahami keruwetan dan kerumitan pemerintah kota dalam mengatasi satu atau dua masalah perkotaan. Okelah..! kita mencoba untuk berpikir positif dan mencoba untuk mempercayai apa yang telah diusahakan oleh pemerintah kota kita, Surabaya.

hhh…mungkin ke’awam’an ku tidak berhak untuk bicara banyak hal yang seolah menghakimi usaha keras yang dilakukan pemerintah kota dalam mengelola kota.

Dalam kasus pohon ditebang ini.. tidak bisa diingkari, aku rasa..bukan hanya aku yang menangis..

okelah.. bila memang harus mengalah untuk sebuah jalan layang. tapi tidak lantas harus ditebang, atau dimatikan.

Mari kita tanam kembali..di sempadan jalan yang lain..sempadan jalan di sisi barat dan timurnya.

Semoga kekuatan dan kewenangan Pemerintah Kota mampu meletakkan kembali keseimbangan yang sesungguhnya sedang diperjuangkan oleh pohon-pohon yang ditebang tersebut dalam berkontribusi untuk tanah, air dan udara di kawasan yang padat ini.

Semoga tulisan ini dibaca oleh orang yang powerfull untuk meneruskan perjuangan pepohonan yang terlanjur ditebang itu.

Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s