Ruang Luar Makam-pemikiran yang Tersisa dari Ritual ‘Nyekar’ di Bulan Romadhon

Latar Belakang

Romadhon dan Idul Fitri, bagi umat Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, tidak lepas dari budaya ‘Nyekar’ ke makam orang-orang yang dituakan. Sesungguhnya di Agama Islam sendiri, makam tidak boleh dikeramatkan. makam hanya berfungsi sebagai ‘pengingat penting tentang masa depan ketiadaan atau tempat kita kembali’. Hanya itu. Bahkan dibeberapa aliran, makam yang dilupakan, justru semakin baik bagi yang dilupakan agar yang terbaring di dalamnya bersih dari dosa sesudah mati. dosa sesudah mati itu berkaitan dengan Riya’ tentang keberadaan makam  itu sendiri.

di Indonesia, khususnya di Jawa. Makam justru menjadi sangat penting, tidak hanya sekedar ‘pengingat tentang mati’ tetapi justru menjadi ‘tempat mengharap berkah’ atau yang sering disebut dengan ‘syafa’at’. Dan hal ini menakutkan karena sangat tipis untuk menuju ke ‘syirik’kan, dimana kesyirikan bila dilakukan dalam kapasitas kecil saja, sudah merupakan suatu dosa besar, yang bila tidak bertobat, akan membuat kita lolos tanpa test untuk masuk neraka jahanam.

Adalah penting mengingat yang sudah meninggal sebagai cara untuk memotivasi diri berbuat yang terbaik selama hidup sebelum mati, mengingat dan memotivasi diri untuk mencontoh kebajikan yang sudah dilakukan oleh yang mati, serta menyambung silaturahim dengan keluarga yang sudah meninggal.

Kenapa penting untuk melarang membaguskan makam atau mengkhususkan makam ? karena seseorang yang sudah mati itu hakekatnya sudah terputus dari amalan dunia, kecuali tiga hal yaitu, anak yang sholeh dan sholehah yang doanya pasti diterima Allah, ilmu yang bermanfaat dan sodaqoh yang menerus.

Jadi sebenarnya, kemanfaatan terhadap keberadaan makam dan beberapa ritual yang ‘menguntungkan’ bagi yang sudah mati, sebenarnya tidak perlu dilakukan di dalam makam, atau di dekat nisan. karena semua amalan atau niat yang berhubungan dengan yang sudah mati, dapat dilakukan di tempat yang tidak berhubungan dengan makam, seperti doa yang dilakukan sesudah sholat, mendatangani keluarga u menyambung silaturahim serta berbuat amal baik seperti yang dicontohkan oleh yang sudah mati.

Hal ini menggelitik saya. Sepertinya perlu dikaji lebih mendalam tentang sarana dan prasarana makam yang lebih benar secara spiritual agar manfaat makam bisa benar-benar direalisasikan sebagaimana maksud dari makam itu sendiri.

(bersambung..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s