Surabaya Heritage Track

Sabtu dan Minggu yang asyik. Berjalan-jalan, eh, enggak ding..naik bis milik House of Sampoerna dalam program Surabaya Heritage Track. Perjalanan yang relatif pendek se, menurutku. dengan bis yang berjalan dengan kecepatan yang tidak cukup untuk mengamati selengkapyang aku inginkan. he he he..

Tujuannya adalah mengenalkan Surabaya dari sisi Kemasalaluannya. Dari House of Sampoerna di jalan Taman Sampoerna 6, bis berjalan melewati sisi-sisi Surabaya yang masih meninggalkan kenangan-kenangan.

Jalan Kalisosok, yang memiliki sejarah panjang dan menyeramkan, diubah menjadi dinding dg lukisan mural yang menarik.

Kesan menyeramkan dari jalur panjang dinding kosong telah hilang dan diganti dengan warna warni ceria… Karena kampung sebelah, kampung yang bersisian dengan penjara tak layak dihukum dengan visualisasi kosong dari dinding penjara.

Bis melanjutkan perjalanan, melewati jalan Rajawali…lalu belok ke jalan Jembatan Merah. Perubahan telah dilakukan juga disini.

Bekas terminal atau stasiun Trem Listrik Jaman Belanda. telah disulap menjadi lapak-lapak perdagangan dengan jenis perdagangan barang yang beragam. suasana klasik menjadi meriah dengan warna terang dan kekosongan ruang yang terisi. Setitik diantara keriuhan suasana.

Melanjutkan perjalanan, kutemukan satu sudut menarik,

Bangunan kuno..yang masih tersisa…megah…terawat. Trenyuh juga ati merasakan kemegahan masa lalu dijalan ini.

Terus…perjalanan berlanjut..semuanya menarik. Dimensi dan visualisasi sepanjang tepian jalan, memang terasa berbeda dibandingkan dengan bila kita menikmatinya dari kondisi bersepeda motor atau yang lain.

Lampu merah di perempatan besar menghentikan bis kami, dan membuatku leluasa memperhatikan jalan di depan, Jalan Tunjungan.

Lamat-lamat aku mendengar dari nyanyian :

Rek, ayo rek, mlaku-mlaku nang tunjungan…
Rek, ayo rek rame rame bebarengan…
cak, ayo cak, sopo gelem melu aku…
cak, ayo cak, golek kenalan cah ayu..

Tiba-tiba aku merasa aneh..siiirrrr…seperti ada yg meyilet atiku.. lihatlah gambar di depan. Gerbang Tunjungan… Mana Tunjungan..? Tinggal Siola yang berganti nama menjadi : Tunjungan City. Lihatlah… Cobalah perhatikan.. Wajah Gerbang jalan Tunjungan.. Alangkah ramainya. Ramai oleh papan reklame berbagai warna dan ukuran…belum jembatan Tunjungan Centre yang benar-benar menutup. Sudah menutup penuh, diisi dengan iklan besar lagi. ya sudah. Sudah jelas hilanglah semua kesan sebagai Kawasan Perdagangan Surabaya Kota Lama.

Kami melanjutkan perjalanan dan berhenti di Balai Pemuda. ati semakin teriris-iris melihat bangunan mangkrak bekas Bioskop Indra. bangunan ini..dulu bagus lo.. lalu apa masalahnya ya, sehingga sampai harus dinjarkan begini

Bangunan yang masih asli. Ditengah Kota lag i, berseberangan dengan balai Pemuda yang sedang direnovasi. menunggu penyelesaian. Semoga penyelesaiannya bukan dibongkar dan diganti dengan Mall. Mudah-mudahan ada yang mau mempertahankan dan menghidupkannya kembali. sayang sekali.

Kami masih berkeliling beberapa waktu. Ke Gedung cak Durasim dan kemudian kembali ke House of Sampoerna membawa kesan mendalam. Pertama tentang perjalanan menggunakan Bis ini. Rasanya terlalu cepat dan kurang menyeluruh. Sepenggal dan tak memberikan pesan yang spesial. Yang ada justru rasa sedih. Karena aku bisa lebih memperhatikan banyak bangunan lama yang tidak terurus, mengotori pandangan. Seperti seonggok barang tak bertuan sesuatu di sudut, tak terjamah, berdebu disebuah rumah besar yang megah.
Bangunan-bangunan yang ditinggalkan seolah-olah berkata :

Bukan waktu yang aku takutkan untuk aku lalui,
Sekalipun dengan waktu aku bisa tersakiti.
Tapi apa yang aku lakukan untuk mengisi waktuku
Dan apa yang aku tinggalkan dari waktu yang aku miliki.
 
Bukan pada apa yang aku tinggalkan
oleh waktu yang aku miliki, yang aku kuatirkan,
Sebab yang aku tinggalkan tidak lagi mampu aku kendalikan.
Tidaklah aku ingin dikenang sebagai pahlawan.
 
Aku hanya ingin memberi cermin
Agar apa yang telah aku lakukan terhadap waktuku
Menjadi manfaat bagi yang melihatku
Untuk bisa memberikan pembanding
Untuk bisa menjadi penyemangat
Untuk bisa menginspirasi
Untuk bisa menimbulkan energi
Atau sekedar menjadi pengingat
Terhadap waktu dan kesempatan yang telah diberikan dan kita miliki
(Ririn Dina M, Surabaya dalam Jejak Kenangan, 2012)
 

2 thoughts on “Surabaya Heritage Track

  1. Bisa melihat bangunan2 yang masih bertahan sampai saat ini ,bisa membuat perasaan kagum dan bersemangat..

    *Bukan waktu yang ditakuti..tapi apa yang harus dilakukan untuk mengisi waktu..*

    Bagus bu🙂

    • apanya yang bagus, Putri.. he he he… kita belum sempat jalan2 bersama, ya Putri.
      sayang kemarin bu ririn sibuk.. padahal kalian dah ngumpul ya..
      yuks, kapan2 kita ngumpul lagi..n jalan2 beneran.. he he he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s