Berpetualang dengan Banjir di Masa Kecil…

Banjir… satu kata yang sebenarnya sangat lekat di hatiku. Karena kehidupanku dari kecil sampai sekarang masih bersenyuhan dengan banjir.Karena rumah masa kecilku dan rumah dimana aku tinggal sekarang masih di alamat yang sama, Kedung Anyar Surabaya. Kawasan banjir yang biasanya di dapat dari Saluran pengairan sawah dimasa lalu yang sampai sekarang masih ada.

Di masa kecil, bila musim hujan, tidak pernah kami tidak kebanjiran, sehingga banjir sudah lagi tidak menakutkan kami. Dan untuk survive, kami bahkan menganggap banjir sebagai sesuatu yang cukup menyangkan dan kami lakukan semua pekerjaan yang diakibatkannya dengan bergurau.

Adalah bapakku yang berperan dan berkoordinasi untuk persiapan, penyelamatan barang, pengaturan jadwal pengawasan rumah dan pembersihan. Masku bagian angkat-angkat barang. aku dan ibuku bagian mempersiapkan tempat meletakkan barang, dan adikku bagian pupuk bawang yang bertugas untuk menyalurkan energi positif ke kami dengan tawanya yang selalu menyenangkan. Kami adalah tim yang hebat di musim hujan.

Pernah di suatu musim, hujan sangat banyak, dan banjir semakin sering. Seperti biasa, ketika air mulai melewati tinggi ubin lantai ruang tamu, kami mulai menyusun dan memindahkan barang yang ada di bawah atau di lantai untuk di letakkan di tempat yang lebih tinggi. Biasanya diletakkan di atas meja dan sebagian dari tempat tidur. Bapak ku sudah terbiasa dengan keadaan ini, sehingga beliau berhasil menyelamatkan posisi stop kontak dan kami bisa menonton TVsambil menunggu hujan reda dan air surut. Dari waktu ke waktu pada saat itu, ternyata hujan tidak juga berhenti. kursi tempat kami duduk tiba-tiba sudah basah. kami tertawa, karena pantat kami basah semua tanpa kami sadari. Kami langsung bekerja kembali, karena berarti harus ada yang diselamatkan dari kondisi banjir yang sudah semakin tinggi. Kami menyelamatkan kasur dulu, kemudian barang-barang yang rentan air. Sungguh luar biasa. Air saat itu sampai melewati kursi sofa dan tempat tidur. Kami menunggu sambil duduk di atas meja atau berdiri di area meja TV yang merupakan satu-satunya tempat yang sudah kami susun sedemikian sehingga bebas dari barang. Suasana hening. Satu-satunya suara hanya terdengar dari TV yang menyajikan acara yang sebenarnya sudah tidak menarik lagi, karena aku tahu, bapak dan ibuku mulai cemas dengan naiknya banjir.

Pet… Tiba-tiba lampu mati.

Ibu mulai memperlihatkan kecemasan. Bapak mengambil alih suasana, mencarikan kami tempat dimana kami bisa lebih nyaman untuk menunggu perkembangan selanjutnya.

Alhamdulillah, tak lama hujan berhenti. Biasanya setelah hujan berhenti, air banjir justru semakin naik. tapi tak banyak dan tak lama. Kami menunggu dengan berdebar-debar. Sesungguhnya kami sudah kedinginan, karena separo badan kami sudah basah oleh air banjir. Tapi kami berusaha mengabaikannya. Karena kami tidak mau menurunkan semangat yang kami usahakan dengan susah payah untuk tetap ada agar energi untuk pekerjaan setelah banjir ini.

Benarlah. Tak berapa lama, air mulai surut secara perlahan. Lumayan, agak lama, bisa kira-kira sekitar 4 -5 jam setelah hujan berhenti. Tapi dengan hujan berhenti dan surutnya air meskipun secara perlahan telah mampu menyalakan harapan bahwa banjir akan segera surut.

Begitulah. Biasanya jam 2 an malam air mulai surut. Bekerjalah kami semua untuk mengeluarkan air dari rumah dan membersihkan semuanya.  Dua jam kami bekerja keras untuk mengeluarkan air dan membersihkan semuanya. Lelah luar biasa selalu kami rasakan di ending kegiatan ini. Diakhir ini kami masih harus bertugas, aku dan ibu membuatkan teh panas dan manis, dan biasanya bapak terus pergi sebentar dan pulang membawa nasi goreng, kadang hanya pisang goreng tergantung seberapa banyak pilihan makanan yang masih ada dari orang-orang yang berjualan sepanjang malam.

Kami mengakhirinya dengan makan nasi goreng panas-panas dan teh manis panas. Sebelum kami tidur, dan melanjutkan bebersih di siang harinya.

Sekali waktu, setelah kami beristirahat dan melanjutkan kegiatan bebersih, sedangkan mas ku masih melanjutkan tidurnya. Aku dan Ibuku membiarkan dia tidur seharian, karena semalam dia yang pegang peranan mengambil air untuk membilas sisa lumpur dari air banjir. Tapi siang itu, hujan kembali deras. dan sepertinya air saluran kota juga sedang penuh sehingga hujan kali itu langsung menggenang dan jadilah banjir kembali sekalipun semalam kami baru saja membersihkan sisa banjir sebelumnya. Air kembali menggenang dalam waktu yang cepat. He he he… Jadi, begitu mas ku bangun dengan segarnya dan penuh semangat, alangkah terkejutnya dia, ketika dia menurunkan kakinya, kakinya langsung menyentuh air yang telah tergenang. He he he.. semula dia mengeluarkan semua sumpah serapahnya. Tapi setelah itu dia pasrah dan tidur lagi. Kami semua tertawa saja…

Di waktu yang lain. Adikku yang kecil  bahagia dengan adanya banjir. Kenapa..? Di suatu kali, banjir yang datang membawa banyak binatang air. mulai dari ikan kecil-kecil banyak dan kodok. Kodok itu ada dimana mana. Dan dia dengan bahagianya kecek (bermain air) berlari-lari mengejar kodok diantara hujan dan air yang mulai menggenang. Uwah.. sungguh banjir saat itu banyak merepotkan, karena ada kodok dan ikan kecil yang membuat kami jadi lebih asyik memperhatikan ikan dan kodok daripada membantu ibu dan bapak berberes barang-barang seperti biasa.

Itu sebabnya aku dan saudara-saudaraku tidak berkesan buruk terhadap banjir. Banjir selalu membawa kesan ‘petualangan’ dan mengasyikkan bagi kami. Selama ini, banjir terbesar kami hanya sampai pinggang. Alhamdulillah.

(Bersambung…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s