PK-5, Ketakberdayaan di Dua Sisi Kehidupan yang Berbeda

Sektor informal menjadi PR yang tidak pernah bisa berhenti. Pembahasan banyak dilakukan dan sering sekali didiskusikan. Setiap titik temu atau pemecahan masalah satu kasus hanya mampu menyelesaikan satu kasus itu saja. Selalu bersifat spesifik dan penyelesaiannya tidak bisa menjadi prototipe dalam setiap permasalahan yang sama.

Menurut Perda Kotamadya Surabaya no 17 Tahun 2003, yang disebut sebagai Pedagang Kaki Lima adalah pedagang yang menjalankan kegiatan usahanya dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan sarana atau perlengkapan yang mudah dipindahkan, dibongkar pasang dan mempergunakan lahan fasilitas umum sebagai tempat usahanya.

Permasalahan utama yang dihadapi adalah mangkalnya PK-5 pada tempat-tempat yang dianggap ‘mengganggu’. Bila di pinggir jalan akan mengganggu sirkulasi dan lalulintas, bila di trotoar akan mengganggu pejalan kaki, bila di areal parkir akan mengganggu sirkulasi kendaraan yang parkir.

Usaha untuk memberikan tempat secara layak seringkali tidak berhasil. Sebenarnya sederhana saja. Bahwa terjadinya gangguan oleh PK-5 tidak disebabkan oleh satu sisi saja yaitu PK-5 nya saja. Bila diteliti, perilaku PK-5 dalam menetapkan areanya seringkali justru disebabkan oleh kebutuhan pembeli. Sudah jamak, bahwa pedagang akan melayani pembeli. Sehingga perilaku pembeli menjadi salah satu faktor yang menyebabkan perilaku PK-5 dalam menentukan posisinya.

Misalnya PK-5 di area parkir kendaraan atau di depan pintu masuk mall atau plaza. Area parkir dan pintu masuk mall adalah tempat utama para pekerja di Mall tersebut. Baik datang maupun pulang para pekerja menyempatkan untuk ‘membeli’ sesuatu. Pada waktu datang mereka butuh makanan kecil sebagai pengganti sarapan yang tidak sempat mereka lakukan. Pada waktu pulang mereka membutuhkan membeli sesuatu untuk kebutuhan di rumah atau di kos-kosan, sebagai cara untuk hemat energi dan hemat transportasi dalam memenuhi kebutuhan di sore atau malam hari.

Maka kehadiran PK-5 di sirkulasi antara area parkir, atau tempat pemberhentian angkutan umum dan Mall menjadi signifikan untuk pemenuhan kebutuhan keduanya, baik pekerja maupun pedagang.

Kasus yang lain, dimana ini sangat menggelitik hatiku, adalah PK-5 di jalan Patua. PK-5 di jalan Patua tidak hanya berjualan. Ada dua jenis PK-5 disitu, yaitu pedagang ikan hias dan penjual jasa jahit baju. Aku sendiri tidak tahu sejak tahun berapa keadaan disitu menjadi seperti sekarang ini. Sewaktu aku masih SD, hanya satu saja rumah disitu, di pojok Patua dengan jalan Anjasmoro yang berjualan ikan hias. Kami sering membeli cacing untuk ikan mas koki kami disitu. Setelah itu, lama kami tidak memperhatikan, hingga tiba-tiba di tahun 2004, ketika aku kembali ke rumah ini, dan membutuhkan ikan mas koki lagi untuk menghibur ibuku, aku terkejut, karena jalan Patua sudah penuh dengan PK-5 ikan hias dan penjahit.

???????????????????????????????

Pedagang Jasa Menjahit

Hampir disepanjang jalan Patua dipenuhi oleh bedhak-bedhak PK-5 terlihat berjajar-jajar dan tidak menyisakan space.

???????????????????????????????

Pedagang dan Pembeli jasa menyatu dalam satu kebutuhan yang bersinergi

Satu hal perlu menjadi catatan tersebdiri bagi ku, karena seringnya aku keheranan, adalah betapa banyaknya yang antri untuk mbetulian baju. Ini menjelaskan satu keadaan bahwa para penjual jasa menjahit itu memang dibutuhkan. Bila Romadhon dan lebaran tiba, keadaan jalan Patua menjadi krodit, oleh kendaraan para pembeli jasa menjahit ini.

Dan dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan lalu tahun ke tahun, aku perhatikan, semakin banyak para penjahit mangkal di Jalan Patua.

???????????????????????????????

Jajaran Pedagang Jasa Menjahit Menutupi Pemilik Pagar atau Rumah Induk

Ketakjubanku dalam memperhatikan perkembangan PK-5 di jalan Patua membuatku berpikir, bukan pada pedagangnya, tetapi pada lokasi dimana mereka mangkal. Coba gambar diatas diperhatikan. Alangkah sialnya para pemilik rumah yang berada di belakang para pedagang.

Pedagang itu mangkal dari jam 9.00 atau 10.00 sampai maghrib. dan diantaranya, yaitu maghrib sampai pagi, bedhak-bedhak itu tidak dibersihkan, tetap di tempat dan tetap menutupi pagar dan facade rumah, menyisakan sedikit space untuk keluar masuk mobil.

Yang aku tahu, memang ada kontribusi beberapa puluh ribu yang disetor di RW setempat. Dengan banyaknya Bedhak, semakin banyak juga pemasukan RW. Tapi aku tidak sempat meneliti secara serius sampai melakukan wawancara, tentang kesediaan para pemilik Rumah ditutupi oleh PK-5. Tapi melihat keberhasilan SMKN 1 membersihkan depan kompleksnya dr PK-5 dan diganti dengan tanaman, membuatku berpikir, bahwa keberadaan PK-5 ini sebenarnya bisa ditolak.

???????????????????????????????

Sisi jalan yang Sudah bersih dari PK-5

Pernah terdengar keluhan dari salah satu pemilik rumah bahwa dia mengalami kesulitan menjual rumahnya karena para pembeli keberatan dengan kondisi PK-5 di sepanjang jalan Patua.

Tidak semua keberatan dengan keberadaan PK-5. salah satu rumah mengatasi masalah itu dengan melebur fungsi rumahnya menjadi toko ikan hias. bagian teras rumahnya telah disulap menjadi toko ikan hias sehingga dia nyaman berada dirumahnya sendiri.

Ikatan emosional dari pedagang dan pembeli, bahwa mereka saling membutuhkan menjadi faktor tersulit untuk mengubah perilaku dan memindahkan potensi ini ketempat yang lebih layak. Sehingga harapan untuk mampu menyenangkan semua pihak atas haknya, seperti  yang pedagang mampu tetap berdagang, pembeli tetap terlayani, jalan menjadi lancar, semua pengendara senang, serta pemilik rumah merasa kembali memiliki otoritas terhadap eksistensi rumah tingalnya sendiri, dapat terpenuhi.

Butuh beberapa pihak untuk memahami keadaan ini, baik bidang sosial, keagamaan, perilaku dan budaya serta tata ruang, sehingga angan-angan untuk melayani semua orang dapat terpenuhi.

Butuh kajian lebih dalam.

2 thoughts on “PK-5, Ketakberdayaan di Dua Sisi Kehidupan yang Berbeda

  1. Dik Ririndina
    Mohon maaf, saya memberanikan diri untuk berkenalan.
    Terus terang, saya tertarik dengan profil dan karya tulis anda yang diunduh di wordpress anda, dan sudah saya telusuri.
    Saya peneliti kementerian PU, kebetulan baru dapat kesempatan menjadi mahasiswa S3 Ars ITS dengan rencana topik disertasi terkait konflik penggunaan ruang pedestrian.
    Sementara itu dulu perkenalan saya, sekalian mohon ijin untuk buka-buka website anda.
    Mudah-mudahan adik tidak keberatan kalau sekali waktu kita ketemu di darat.
    Terima kasih banyak atas sharing ilmunya
    Salam
    Ibu Joyce

    • Hehehe.. monggo bu.. hanya tulisan orang yang cari pelampiasan. tempat curhat. karena kalau tidak ditulis…kata orang jawa… bisa jadi bisul. tulisan-tulisan itu betul-betul hanya curhat, tidak memiliki kajian ilmiah. kalo dijadikan bahan pemikiran sebagai suatu masalah masih bisa. bisa bu.. kampus saya dekat kok dengan ITS. di Universitas Widya Kartika. Jalan Sutorejo Prima Utara II no 1.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s