Cermin dari Sahabat

Aku mengenal beliau dari 20 tahun yang lalu. Dan aku banyak bekerja sama untuk mengembangkan pendidikaan Arsitektur. Bersama-sama kami melakukan pengembangan keilmuan, mendampingi anak-anak, memberikan semua hal yang kami punya untuk anak-anak.

Beliau adalah seorang arsitek mumpuni. Bidang perancangan kota dan planologi menjadi santapan sehari-hari, sekalipun dia juga enjoy untuk memberikan materi Sejarah dan Teori Arsitektur.

Orangnya luar biasa easy going. Sekalipun juga sangat serius disemua bidang. Suka sekali bergurau dan ngerjain orang, terutama ngerjain aku. Sangat wise dalam menyikapi banyak masalah. Tutur katanya sangat memukau. Penjelasan-penjelasannya sangat bisa diterima. Dan satu hal yang sangat aku kagumi dr beliau adalah kecepatan dan kemampuan beliau menangani beberapa masalah sekaligus dalam satu waktu. Istilah kami dulu : kemampuan membuka ‘folder‘ masalah secara bersamaan.

Sederhana dan selalu tampil terbaik. sangat percaya diri, tapi rendah hati dalam menilai kemampuan dirinya sendiri. Wawasannya luas dan akrab dengan siapa saja. Suka memotivasi teman-teman yang lagi galau. Beliau adalah orang yang sangat menyenangkan untuk diajak diskusi masalah apa saja.

Beliau adalah sahabat dekat dan teman seperjuangan di pendidikan Arsitekturku. pak Slamet Budi utomo.

Lalu kami terpisah. Beliau sibuk kuliah S3.

Dan beberapa waktu yang lalu…aku tergopoh-gopoh untuk menjenguknya, di Malang. Karena mendengar beliau sakit, koma. kena stroke. Beliau kelelahan dalam berkegiatan. beberapa hari sudah tidak tidur, sibuk mengerjakan laporan. Lalu beliau makan Soto. Bermaksud menghibur diri yang stress dengan makan makanan kesukaan, soto babat. Tapi justru berakibat fatal. Itulah yang menyebabkan beliau kolaps…Aku sedih.

Aku mengikuti perkembangan sampai beliau cukup sehat dan kembali pulang ke Surabaya.

Permasalahan utama adalah disini. Di proses penyembuhan. Karena ternyata yang bermasalah di otak adalah justru memori yang menjadi ‘unggulan’ beliau, yaitu : membaca, menulis dan bicara.

Aku ikut sedih dan menangis dalam hati, melihat kesedihannya yang mendalam. Dahulu, tiada hari tanpa menulis dan membaca. buku-bukunya baanyyakkk sekali, sekalipun tidak terorganisir dengan baik kerena beliau juga orang yang sangat ringan tangan dan ringan hati untuk meminjamkan buku-bukunya (sampai lupa siapa saja yang pinjam bukunya, apakah sudah dikembalikan atau pindah tangan).

Hobinya adalah menulis dan membaca, ibadahnya adalah dengan bicara, mengajar, diskusi, sharing dll. Dan ujian untuknya saat ini adalah justru dihilangkannya sementara semua itu darinya.

Satu-satunya kelebihan yang saat ini dimilikinya yang menjadi kekuatan emosionalnya adalah teman-temannya. Saat ini memang menjadi ujian juga bagi teman-temannya, apakah juga dapat sesabar beliau dalam menghadapi musibah ini. Artinya, karena teman-teman menjadi sumber motivasi beliau, maka diharapkan teman-teman juga sabar untuk terus mengunjunginya dan meringankan bebannya. Betapa jurang kesedihan dan keputus asaan itu sangan dekat dengan langkahnya.

Dalam kesedihan memandangi beliau…aku seperti melihat beliau membawa cermin yang diarahkan ke aku. Aku melihat ke diriku sendiri.

Melihat diriku sendiri. melihat apa yang seperti dilihat o pak Slamet Budi ke dirinya sendiri. Seperti yang dimiliki oleh beliau, kemampuan menulis, membaca, berbicara, bahkan mungkin menggambar, berhitung.. merasakan segala sesuatu.. melihat.. mendengar.. berjalan, bergurau, makan, minum, bernapas… Semua nikmat itu. Sudahah aku syukuri. Sudahkah cukup caraku bersyukur, sudah seimbangkah antara yang aku terima sebagai kemampuan dengan apa yang sudah aku berikan oleh kemampuan ini. Apa saja yang sudah aku lakukan dengan pemberian gratis ini..?

Cermin besar itu jernih sekali, dan memberikan pantulan yang jernih tentang apa yang sudah aku lakukan dan yang seharusnya aku lakukan.

Dan dengan sedih, aku melihat pantulan yang jernih itu. Aku bisa menilai diriku sendiri. Betapa karunia itu memang tak terhitung, dan yang sudah aku lakukan hanya terhitung beberapa kali saja.

Dan Seolah sang Cermin bertanya : siapkah bila kemampuan-kemampuan yang memang titipan itu diambil oleh pemiliknya.

Aku tidak bisa menjawab. Menurutku memang tidak perlu dijawab. siap atau tidak siap, bila memang diambil, kita tidak punya hak apapun.

Aku memperhatikan cermin yang jernih itu…

Lalu aku teringat nasehat nabi Muhammad SAW kepada kita semua :

Lakukan lima perkara sebaik-baiknya sebelum datang lima perkara :

  1. Pergunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu
  2. Pergunakan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu
  3. Pergunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu
  4. Pergunakan waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu
  5. Pergunakan hidupmu sebelum datang matimu

Cermin besar yang ada dihadapanku…terasa tersenyum. Bahwa, bila kita sudah melaksanakan yang terbaik dari masa yang kita punyai, tidak akan ada penyesalan bila waktu itu tiba. Tinggal sabar serta bersyukur, bahwa segala sesuatunya telah dilakukan dengan niat yang sebaik-baik niat, serta usaha sebaik-baik usaha yang bisa dilakukan.

Bukan kita yang menilai endingnya..Biarlah hanya Allah SWT sebagai satu-satunya yang berhak atas perhitungan itu.

Semoga kita termasuk orang-orang yang sabar atas semuanya.

Semoga Allah memberi kekuatan untuk bersabar dan tawakal kpd Pak Slamet Budi U. Semoga diampuni semua dosanya dan segera dipulihkan kembali oleh Allah, agar dapat bermanfaat kembali. Aamiin…

Teman-teman, rekan-rekan, bila kalian membaca blog ini.. cobalah untuk meluangkan waktu dan datang ke rumah beliau, untuk memberi semangat. sebab..kalian semualah harta beliau yang masih diingatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s