Mlaku-mlaku nang TP5 (pk5 di Tugu Pahlawan)

Berjalan-jalan selalu menjadi hal yang menyenangkan. Kemarin pagi, aku berjalan-jalan di area pk5 di kawasan Tugu Pahlawan. Pagi masih menyisakan mendung di langit. Jalanan beraspal pun terlihat masih basah oleh hujan yang turun semalaman.
Tapi sungguh…entah apakah karena menjelang natal dan tahun baru, atau ada apa yang aku tidak tahu, yang jelas, pagi itu suasana sangat ramai. Penuh sesak…

image

Area pk5 di kawasan Tugu Pahlawan sudah lama ada. Sejak Taman Surya Balai Kota Madya Surabaya tertutup oleh mereka, kawasan Tugu Pahlawan menjadi pilihan untuk menebar dagangan. Dulu tidak seramai ini. Hanya beberapa saja. Tapi perkembangan variasi yang diperdagangkan sangat berkembang. Lebih banyak dan lebih beragam.
Perkembangan pedagang serupa ini kemudian berkembang hampir disemua place yang memungkinkan para pedagang pk5 menggelar dagangan mereka. Di Taman Prestasi, Taman Bungkul menjadi area surga perdagangan mereka.
Khusus area pk5 yang menjadi pelarian pertama para pedagang setelah terusir dari Taman Surya Balai Kota Surabaya, ternyata tidaklah demikian adanya. Banyak perbedaan jenis dagangan antara yang diperdagangkan di Taman Surya dengan yang diperdagangkan di kawasan Tugu Pahlawan. Bila di Taman Surya lebih banyak bersifat rekreatif dan melayani sepenuhnya kebutuhan anak-anak bermain dan orangtua yang menunggui, banyak permainan anak-anak yang setelah dibeli bisa langsung dipakai dan bermain-main di Taman Surya. Barang-barang permainan yang diperdagangkan lebih menyerupai barang mainan seperti di pasar malam, barang mainan yang berupa barang home industri, buatan tangan sendiri, sederhana namun menyenangkan. Sedangkan di tp5 kawasan Tugu Pahlawan lebih banyak memperdagangkan barang-barang konsumsi rumah tangga dari masalah sandang dan kebutuhan lain-lain yang notabene sebenarnya merupakan barang-barang yang bisa dibeli di toko. Kalaupun ada mainan anak-anak, tidak terlalu banyak, terselip diantara dagangan konsumsi rumah tangga dan tidak dengan space yang nyaman untuk bermain.
image

Tidak ada penjual layang-layang yang langsung bisa dipraktekkan di areal di situ. Ada sih.. bila mau sedikit melangkah ke dalam taman tugu pahlawan. Tidak ada penjual slepetan…semacam kitiran yang dislepet ke atas dan kitiran turun perlahan dengan asyiknya. Tidak ada pesawat gabus yang bisa dilempar dengan energi tawa dan kegembiraan. Ya…memang berbeda. Sekalipun tidak sengaja dikonsepkan. Tapi akhirnya dapat kita ketahui, para pedagang telah dengan sendirinya menuangkan konsep di setiap place dimana mereka bisa mangkal. Di Taman Surya memang untuk rekreasi, karena dijaman itu belum ada Taman Prestasi dan Taman Bungkul. Sedangkan di kawasan Tugu Pahlawan ini, benar-benar berkonsep perdagangan.
Banyak yang diperdagangkan. Dari yang biasa diperdagangkan sampai beberapa hal baru yang dicoba diperdagangkan.
image

image

Menjadi artis menoreh rajah di tangan dan di tubuh. Melukis tangan dan tubuh juga menarik perhatian para pengunjung dan pembeli. Mau mencoba…?
Penjual makanan juga bertebaran dimana-mana, terutama penjual makanan kecil seperti lompya, donat dan sebagainya. Semua bercampur aduk dalam suasana riuh rendah yang luar biasa. Tidak bisa diperbandingkan, sebenarnya lebih banyak mana antara pembeli dengan pedagang.
Tidak ada penzoningan yang membuat nyaman para pembeli. Tidak ada space terselip untuk sekedar memberi nilai tambah selain perdagangan. Sehingga kondisi santai yang rekreatif mencari rempat sendiri.
image

Menarik bukan..?
Sepertinya pemkot masih separo hati dalam mengijinkan area-area pk5 seperti ini unuk menjadi bagian dari tata ruang.
Memang tidak nyaman. Karena mereka mobil, bergerak dan berdiam dimana-mana, tidak kenal aturan dan tidak teridentifikasi dengan jelas. Semua orang seolah-olah bisa saja menjadi pedagang dadakan. Sehingga untuk mengaturnya agar menjadi lebih berdayaguna pemkot kehilangan landasan dasar. Disisi lain, kegiatan ini sudah merupakan perilaku warga kota untuk menjadi pedagang sekaligus pembeli tanpa ikatan apa-apa seperti bazar kampung dalam skope yang lebih besar.
Potensinya besar, baik sebagai ajang anjasana antar warga, peredaran perekonomian masyarakat kecil, bersifat rekreatif yang murah meriah,  yang menimbulkan energi positif bagi berkehidupan kota ini sendiri.
Tapi mau tidak mau harus diakui, kondisi ini adalah keunikan tersendiri, bahkan bila kemudian di manaj dengan baik, kota akan bisa mengalokasikan para semut (aku sebut semut karena suka bergerombol di area tertentu, bekerja bersama dan bersosialisasi dalam kerumunan itu juga) di area-area tertentu saja dan di waktu-waktu tertentu saja. Ibaratnya, beri semut gula di satu tempat, agar tidak bertebaran di lain tempat. Tidak hanya berguna bagi pedagang dan tata ruang saja. Kepastian tempat dan waktu juga menjadi hal yang menyamankan para pembeli dan warga kota.
Bila keunikan ini mampu menjadi ciri khas yang secara permanen dapat menjadi agenda kota, bisa jadi menjadi agenda para wisatawan juga menganggap kegiatan ini patut dikunjungi.
Kesimpulannya, bila pemkot serius menangani pk5 ini sebagai potensi keunikan kota Surabaya, pemkot tinggal memilih lokasi yang mana saja yang hendak dijadikan ikon kota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s