Selamat Tahun Baru 2014…

Tanggal 1 Januari selalu menjadi hari favorit untuk menengok ke belakang sebentar dan becermin. Tidak terkecuali aku. Terutama untukku. Sebenarnya tidak ada istimewanya tanggal 1 sebagai hari dengan momen introspeksi. Bisa dilakukan kapan saja. Bila kemudian aku hanyut dalam suasana tahun baru ini, lebih karena kebetulan aku tak mampu menahan hatiku untuk menuliskannya. Bila kali ini aku agak melankolis…maaf ya.

Kenapa aku hanyut dalam momen mengevaluasi diri di tanggal 1 januari ini..karena tahun kemarin memang luar biasa bagiku. Terlalu banyak kesibukan, terlalu banyak kegiatan, terlalu banyak peristiwa, terlalu banyak emosional yang diakibatkannya. Baik emosi marah, sedih, kecewa, senang, bangga…lengkaplah… Banyaknya peristiwa…banyak membuka karakter..membuka potensi2 diriku sendiri dalam menghadapi semuanya. Kekuatan2 tersembunyi untuk mencoba bertahan dalam menjaga atmosfir positif, untuk bertahan dalam kekompakan tim.

Salah satu alasan aku menulis kali ini adalah itu. Kekompakan tim..dan menonton film ‘The Avangers’ mengingatkan aku kembali pada peranku sendiri di kehidupan ini… kehidupanku. tidak hanya ‘The Avangers’ film atau cerita yang membuatku terkesan. Kungfu Panda, Lord of The Ring, Charly’s Angels bahkan buku bacaan kuno ‘Naga Sasra Sabuk Inten’, Api di Bukit Menoreh, Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu. pada semuanya aku menemukan satu hal…bahwa melakukan bersama-sama itu sangat menyenangkan dan lebih berarti. Makanya aku lebih menikmati nonton film atau membaca cerita-cerita seperti itu daripada film superman, spiderman atau yang seperti itu. Aku menjadi ‘hidup’ dalam Tim. Banyak kegiatan akhirnya aku lakukan dengan cara membentuk Tim. Atau aku selalu mengkondisikan lingkungan terdekatku adalah sebuah tim. Pada awalnya memang menghasilkan kerja yg baik dan sukses. Tapi waktu berjalan dan kegiatan mulai beragam dengan tim yang beragam pula. Kekecewaan dan ke-tidak mengerti-anku kenapa orang lain bersikap berbeda mulai banyak aku alami.

Banyak…
Tapi bukan manusia sempurna bila kita tidak mampu memahami makna peristiwa-peristiwa tersebut.

Perlahan namun pasti, tanpa mengubah karakter asliku yang lebih suka berada dalam sebuah Tim, aku mulai bisa memahami situasi dan kondisi dengan sudut pandang yang lebih realistis dan melebarkan toleransi dengan bersikap sabar terhadap diri sendiri dan sabar terhadap orang lain. Memaafkan orang lain dan memaafkan diri sendiri. Dan ternyata pemahaman itu masih perlu banyak diuji, banyak dihadapkan langsung di kehidupan saat ini. Tanpa harus menjadikan diriku apatis atau putus asa karena target diri sendiri tak tercapai, aku menjadikan diriku tempat sampah. Tidak sekedar tempat sampah..tapi tempat sampah yang ‘pintar, yang mampu memilah sampah mana yang memang harus dimusnahkan, atau sampah yang masih bisa di daur ulang untuk menjadi seauatu yang lebih berdaya guna dan bernilai lebih baik. bukan berarti bahwa setiap masalah adalah sampah. hanya sekedar analogi saja agar aku bisa memikirkannya dengan lebih positif..bahwa yang tidak menyenangkan… bukan mesti harus dibuang, tapi bisa dibuat menyenangkan bahkan jauh lebih menyenangkan. Lebih mudah kah..? Oooo…tidak..itu jauh lebih sulit. Tapi aku rasa itulah yg bisa aku lakukan sesuai dengan karakterku.
Dan aku mencoba enjoy dengan semua yang bisa aku lakukan.
Dari satu Tim..ke tim yang lain..dari satu tim yang nyaman harus berpisah..dan membentuk tim baru..dari yang sedih harus berpisah dengan tim yang lama yang lalu harus berganti dan membentuk tim yang baru… dan semua sesungguhnya tidak pernah terhapus begitu saja di hatiku, di ingatanku.
Totalitas yang sudah dijalankan disetiap kegiatan di tim-tim itu tidak pernah menjadi penyesalanku. Semua berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Semua berjalan sesuai dengan ilmu yang memang harus aku pelajari dalam hidup ini.tidak ada kesia-sian, totalitas tidak pernah beroutput penyesalan.
Aku menikmati setiap kesuksesan dan kegagalan yang diakibatnya. Karena aku selalu memperoleh sesuatu darinya.
Kehidupan memang harus terus berlalu. Untuk maju ke depan… maka yang rugi…adalah yang tidak mampu mendapatkan ilmu dari setiap totalitas yang sudah dijalankannya. Karena kita tidak bicara masalah materi duniawi saja. Tapi kita bicara kematangan moralitas. Survive di kehidupan itu..bukan hanya untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi semata. Tapi jauh..jauh…jauh lebih dari itu.

Maka aku berharap..aku tetap bisa konsisten terhadap apa yang selalu aku niatkan di setiap kegiatanku. Aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s