Januari, 02-2015

Tahun baru. tahun 2015. Tidak terasa. karena sudah dijalani dengan sepenuh hati dan seluruh waktu. Tidak istimewa bila dikatakan sebagai hari yang itu-itu saja. tak ada bedanya dengan hari yang lain. Pembeda hanya pada nama dan label saja. Bernama 1 Januari 2015 dan berlabel tahun baru.

Dan semua orang menyadari, hanya saja tetap saja dirayakan dan dibesar-besarkan sebagai hari yang berbeda dan membedakan, sehingga mempunyai alasan sebagai motivator untuk momen introspeksi diri, bagi sebagian orang yang di setiap harinya tidak memiliki mekanisme untuk introspeksi.

Hiruk pikuk di luaran membuat ‘ruang’ ku semakin sempit dan menekan. Hiruk pikuk yang justru membuatku dan memaksaku melihat diriku sendiri saat ini. ironis, karena aku kahirnya membaningkan dengan semua hiruk pikuk diluar.

Hari hari yang aneh..

Hari-hari dimana semua peran hidupku memaksa untuk dilaksanakan secara bersama-sama.

  1. Sebagai anak, dimana ibunya sedang butuh dirawat sepenuhnya, sakit yang di deritanya membuat ibu selalu menangis kesakitan, dan membuatku sebagai anak mampu merasakan rasa sakit tapi tak berdaya dalam membantu. hanya mampu meringankan sedapat mungkin yang dilakukannya. dan mendoakan agar Allah memberinya kekuatan serta menghilangkan rasa sakitnya. tangis ibu yang kesakitan membuat hatiku luruh, menghanguskan semangatku, melenyapkan energiku. tapi disis yang lain, sebagai sandarannya, aku harus tampil kuat, tegas, mengarahkan, memaksa dan harus halus lembut secara bersamaan. sedang aku merasa bukan perawat dan dalam beberapa hal merasa tak bisa memutuskan tindakan dengan benar. Tapi aku harus melakukannya, karena ibu tak mau dirawat oleh yang lain.
  2. Sebagai ibu dari anakku, yang masih SMP, yang masih dekat denganku. yang masih ingin jalan-jalan karena liburan semesteran. Dia gak nuntut. dia tahu suasanaku. tapi aku juga melihat kebosanannya. aku tahu harus ada 1x saja momen untuk jalan dengannya. Karena sekolahnya sudah fullday. liburan ini harusnya jadi momen dia denganku yang menyenangkan. Jalan-jalan… masak-masak… bersih bersih.. aku tahu apa yg dia inginkan. tapi aku tak bisa memberikan semua yang sedang dia inginkan.
  3. Sebagai dosen, aku masih harus mengejar waktu untuk menyusun jadwal seminar anak-anak. anak-anak masih butuh bimbingan laporannya untuk diseminarkan begitu libur selesai. Aku tahu anak-anak juga tidak libur karena harus mengerjakan laporan akhir MK Seminar konsep Ars. maka aku juga harus melayani permintaan pembimbingan mereka by email. Mereka serius mengerjakan sesuai dengan permintaanku, tentu tak sopan dan tak layak untuk tidak mengimbangi apa yang sudah mereka sanggupkan untuk memenuhi permintaanku. aku juga masih harus mengerjakan beberapa laporan kegiatan yang telah selesai dilaksanakan.
  4. Sebagai tim leader pekerjaan desain yang belum selesai. banyak revisi, dan harus diselesaikan serta presentasi minggu pertama januari 2015. sebenarnya ini pekerjaan tim. tapi sebagian besar timku sedang liburan. aku memang agak kecewa. tapi aku memahami kondisi mereka. dan ini mmg proyek kecil, tidak perlu diberi loyalitas utuh sampai harus meninggalkan kegiatan keluarga. tapi aku tim leadernya. aku tahu pekerjaan tidak bisa menunda hanya karena timnya liburan. the show must go on…apapun yang terjadi dengan tim. jadi aku harus tetap jalan, sekalipun kondisiku juga hanya 10%. aku harus tetap melaksanakannya. karena proyek harus tuntas 100%.
  5. Sebagai pembantu rumah tangga. Biasanya, aku berbagi dengan ibu untuk banyak urusan pekerjaan rumah tangga. dengan sakitnya ibu, maka semua harus aku yang handle. tidak telalu berat se.. tp tetap harus dimanage sedemikian agar tidak berat. anak-anak bisa dimanfaatkan untuk belajar n membantu urusan rumah tangga.
  6. Sebagai istri, dimana suamiku juga sedang flu. tapi yang ini sangat mandiri. bahkan membantu dan mengambil alih apa yg bisa diambil alih olehnya pas aku mmg tak bisa melakukan salah satu pekerjaan itu. disaat aku harus melayani ibuku, disaat aku harus menemani anakku, disaat aku harus bangun malam untuk bekerja. dia bisa menyapu kalo dia liat dapur kotor oleh anakku yang suka memasak.. dia bikinkan teh panas yang manis untuk kita semua.. dia tiba-tiba keluar rumah..pulang membawa nasi bebek kesukaan anak2nya… atau nasi goreng putih kesukaanku… atau sate laler untuk ibuku… dia selalu ada saat aku butuh untuk membeli obat u ibukku… mengantar ibukku ke puskesmas..pas aku harus presentasi.. dia lakukan semua disela-sela dia bekerja… di sela-sela batuk dan pileknya.

Tidak terhitung rasa terimakasihku padamu.. sungguh.. tahun ini.. aku semakin mencintaimu. Trimakasih atas supportmu yang tanpa suara. semoga kau selalu sehat dan tetap selalu bahagia beristrikan aku, yang selalu repot sendiri.

Berikan suamiku berkah yang sebanyak-banyaknya ya, Allah. Trimakasih atas anugerahMu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s