Mutiara dari Kalimas Timur

Sejak aku mengenal Kalimas sebagai topik tesisku, aku semakin jatuh cinta padanya. Seringkali keinginan untuk mengunjunginya tidak dapat aku tahan. Bila berada di sana, aku menjadi orang yang romantis, membayangkan sungai menjadi tempat yang inspiratif. Hanya dengan duduk di tepiannya, dan menikmati pemandangannya, aku bayangkan aku bisa bekerja full menulis disitu.

Kalimas Timur berada di Surabaya Utara, antara Jembatan Petekan dan jembatan Merah.

peta kalimasLokasi Kalimas Timur

Pada tahun 2009 saat aku sudah mulai menggeluti Spirit of Place Koridor Kalimas, Bangunan asli masih banyak yang eksis. langgam dan detailnya masih terlihat jelas, sekalipun berlumut dan sangat tidak terpelihara. beberapa bangunan bahkan ditinggalkan begitu saja oleh pemilik aslinya. Hal itu sangat terlihat jelas dari tidak adanya lampu di dalam ruang, tertutup dengan kunci besar yang tidak tahu dibuat dimana dan tahun berapa (aku sempat bergurau dengan sahabatku yang membantu memotret bangunan-bangunan itu dengan bilang : bukan hanya bangunan yang menjadi artefak sejarah, tapi termasuk kunci gemboknya, ha ha ha…), dan juga ketertutupannya sehingga bangunan baru yang terbuat dari papan dan kardus menempel rapat di pintu yang tertutup.

Entah kenapa, aku jadi merasa mendengar lagu house for sale samar-samar dari kejauhan :

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine
 
And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share
 

Lalu, seperti biasa, aku hanyut dalam memori yang berbeda (namun sama seperti saat ini, seperti deja vu) di dalam otakku. Sehingga memotret bangunan-bangunan ini sepanjang kurang lebih 3 km tidak terasa berat bagiku.

Lihat saja foto-foto ini,

bang di kalimas timur-8

Pelabuhan Kecil di Samping JMP

Area ini adalah area favoritku. aku betah sekali disini. Biasanya, aku permisi untuk numpang duduk di bangku yang ada disitu. biasanya bangku itu digunakan masyarakat sekitar untuk didis dan ngobrol sambil santai di sore hari. Sedangkan pagi samapi siang area ini dipakai sebagai area pasar basah, pasar krempyeng yang ramai, kotor dan bau, karena mereka melakukan pemindangan ikan yang mereka dapat dari laut disini.

Dari tempat dudukku aku bisa memperhatikan dan menikmati bangunan-bangunan di sekitar situ. Ada menara tua sebagai vocal point untuk para nelayan berlabuh disitu. Ada bangunan-bangunan tua bergaya vernacular permukiman Arab yang masih asli. detailnya masih terpelihara.

bang di kalimas timur-6

Menara tua sebagai focal point area pelabuhan kecil

bang di kalimas timur-5

Rumah bergaya Vernacular Permukiman Arab

Menurut sejarahnya, area ini memang pelabuhan kecil tempat penduduk menurunkan ikan dan barter bahan makanan. Ini bisa dilihat dari foto kuno yang masih ada.

bang di kalimas timur-9

Foto Lama di Tempat yang Sama, Waktu yang Berbeda

Dan banyak lagi bangunan-bangunan lama seperti yang aku ceritakan sebelumnya, seperti :

bang di kalimas timur-2

atau :

bang di kalimas timur-4

Dan banyak lagi. Pada dasarnya dari kesimpulan hasil penelitian di tesisku adalah masih terjaga spirit of place koridor bila memperhatikan tampilan bangunan dan beberapa kegiatan yang masih dilakukan di koridor ini. Yang hilang dan perlu ditambahkan bila memang menginginkan spirit op place koridor ini utuh seperti spirit of place koridor ini di masa lalu, ya kegiatan sungainya harus dihidupkan dan menjadi ruang positif bagi bangunan yang ada di tepiannya.

Pada kenyataannya, di tahun itu, tahun 2009, sungai Kalimas menjadi sangat tidak menarik, baik bagi yang lewat sambil lalu atau bagi orang-orang atau masyarakat yang berhubungan langsung dengan sungai atau yang berada dan hidup ditepiannya. Sungai hanya berharga sebagai sarana pembuangan yang mudah bagi seluruh sampah yang perlu mereka buang. Maka mereka banyak membangun tempat bernaung di tepiannya.

tepian kalimas lama-1

Tepian Kalimas Penuh dengan Bangunan yang Membelakanginya

Atau ini :

tepian kalimas lama-3

Bangunan Ilegal menutupi Bangunan Asli

Dan nasib koridor ini memang sangat memprihatinkan, karena tidak hanya bangunan ilegal di tepian Kalimas saja yang menutupi satu serial vision dari bangunan-bangunan indah di Koridornya. Banyaknya truk-truk besar pemasok bahan baku pabrik minyak dan truk-truk pengangkutan dari dan ke gudang dan pelabuhan juga menutupinya, menjadikan koridor ini menakutkan bagi pengendara lain.

tepian kalimas lama-4

jajaran Truk-Truk besar yang menutupi Fasade Bangunan-bangunan

Belum lagi efek kerusakan jalan yang ditimbulkan oleh truk-truk besar ini. Melihat kegiatan yang ada (belum melalui penelitian dengan data yang benar) sepertinya, koridor Kalimas sudah ‘dikuasai’ oleh pabrik minyak di ujung jalan Kalimas Timur ini. Hal itu terlihat dari beberapa kegiatan penduduk yang masih bermukim disini, Rumah mereka telah disulap menjadi gudang bahan baku. Mereka merubah tata layout di lantai bawah menjadi gudang dan mereka hidup dan bermukim di lantai atas. Dan ijin parkir truk-truk yang merusak jalan juga menjadi tandatanya besar buatku. hhhh… Itulah yang membuatku hopeless dengan perubahan yang dimungkinkan untuk menjadikan koridor wisata konservasi di Kalimas Timur ini. Betapa keinginan untuk menjadikan Kalimas di kawasan ini sebagai wisata sungai dan konservasi bangunan kuno, sebuah museum berjalan, yang mampu menjadi ikon kota Surabaya menjadi jaaauuuuhhhhh…. Impian yang malah jadi penyakit… he he he.. ya sudahlah… impian rakyat kecil… yang menginginkan kotanya memiliki sungai sebagai ikon kotanya.

🙂

Beberapa waktu yang lalu, seperti biasa, saat pikiran jenuh dengan banyak masalah, baik di Kampus maupun di rumah, aku ajak anakku yang kecil kembali menyusuri tepian sungai Kalimas. Kami masuk dari sisi Jalan Rajawali, belakang JMP menuju Kalimas Barat. Pagi itu nyaman sekali karena cuaca cerah. Beberapa kegiatan pagi terlihat di jalan Kalimas barat.

tepian kalimas baru-7

Suasana Jalan Kalimas Barat

Jalan masih sepi. Bangunan gudang-gudang kuno pabrik gula yang masih tegak berdiri mendominasi suasana. D/H yang kurang lebih sama dengan 1 membuat orang-orang yang lewat di depannya sangat merasakan dominasinya. Syahdu…

tepian kalimas baru-6

tepian kalimas baru-9Kegiatan Pemindangan Ikan di Tepi Kalimas

Xi xi xi… mereka terlalu serius bekerja sampai tidak mengetahui bahwa aku memotret-motret mereka. Luar biasa kegiatan mereka. Aku tertawa dalam hati. Nyaman sekali memasak atau memindang ikan di tepi jalan umum seperti ini. Cuek sekali mereka melakukannya. Ketika mereka menyadari bahwa aku memotret mereka, mereka tampak kagok. He he he…jadi aku tertawa lebar kepada mereka agar mereka hilang kecanggungannya. Benar, mereka ikut tertawa dan melanjutkan pekerjaan mereka… Aku jadi termangu-mangu. Jadi…kesimpulannya, sebenarnya mereka juga ada sedikit kekuatiran terhadap kegiatan mereka yang mereka lakukan di tepi jalan umum.

Aku melanjutkan perjalanan menuju ujung Kalimas Barat, baru memutar motor dan berjalan kembali ke arah selatan, sambil memotret-motret bangunan di Kalimas Timur, dari Jalan Kalimas barat.

Waa… aku suprise buanget… aku bisa melihat pasar di ujung Kalimas Timur dari Kalimas barat. Itu artinya, bangunan ilegal yang biasanya menutupi fasade bangunan sudah hilang… waa…

tepian kalimas baru-2Langit yang terlihat indah dari pantulannya di sungai

tepian kalimas baru-3

Tepi Kalimas Timur

Tepian Kalimas Timur jadi bersih. Fasade bangunan di seberangnya jadi terlihat. hick.. pantulannya tercermin di sungai… aduh indahnya.

Waa… asyik sekali.

tepian kalimas baru-8Fasade Bangunan yang telah Terbuka

Rasanya aku jadi keasyikan. PemKot telah berhasil mengembalikan hak sungai atas pemanfaatannya dengan benar. Bangunan-bangunan yang ada di Jalan Kalimas Timur mulai terlihat terang. aku perhatikan, di tepiannya sudah mulai ditanami tanaman. Melihat potensi bangunan di koridornya yang indah, mestinya tanaman yang di tanam tidak menghalangi pemandangan indah ini. pilihan tanaman harusnya yang tinggi dan kurus, seperti palem paleman saja. Jadi efek kebersihan udara tetap dapat dan secara visual juga dapat. ya sudahlah.. btw, usaha ini sudah sangat bagus.

Satu lagi… Sayang sekali, truk-truk itu masih bercokol disitu..😦

tepian kalimas baru-4Truk-truk yang Menutupi Fasade Bangunan

Semoga kemajuan koridor Kalimas saat ini, tidak berhenti sampai disini. masih banyak PR PemKot untuk mejadikan kawasan ini sebagai wisata air dan heritage yang menguntungkan. Masih bisa diselamatkan. Tapi aku tahu, sangat sulit menembus banyak pihak  dan dinas-dinas yang merasa berkepentingan dan terkait dengan sungai dan konservasi bangunan. Sedang disisi lain, sangat sulit menetapka legalitas dan pemilik bangunan yang masih ada dan ditinggalkan, agar berpotensi sebagai bangunan cagar budaya milik negara, milik masyarakat umum, sehingga bisa dikelola dengan benar.

Semoga suatu ketika ini bisa terwujud. Semoga aku menjadi bagian dari kegiatan itu. Aamiin..

(  mimpi di siang bolong…😀  he he he… impian dan harapan )

8 thoughts on “Mutiara dari Kalimas Timur

  1. koridor kalimas memang venue yang sangat potensial bu…. setelah baca artikel ini langsung kebayang, gimana ya kalau dijadikan seperti kawasan kota tua seperti di jakarta, atau seperti kawasan kota tua di semarang ( area st.tawang semarang ), dan setiap sore atau pagi ada aktifitas disana,….. kalau sisi modernnya sama juga seperti avenue of stars yang di Hongkong…..
    (mimpi di sore hari…)

    • ya..memang begitu maksudku..he he he.. ke-kuno-an bukan berarti kumuh dan ‘dingin’. Tapi ke-kuno-an disini yang aku maksud adalah keindahan yang ‘evergreen’.. yang bisa dinikmati sepanjang tahun..hhuuufff… yang kita cita-citakan terlalu banyak mengandung ‘uang’…baik dari proses maupun hasilnya.. ha ha ha.. gt deh…akan banyak yang minat. akan banyak kepentingan. tidak sesederhana yang kita inginkan.. yaitu : mengoptimalkan kemanfaatan atas keberadaan sungai, yang tentunya…mestinya…diberikan Tuhan ke kita bukannya dengan tanpa perhitungan.🙂

  2. Sip bu, emang apik disitu, terutama kalo dibersihkan kekemprohannya😀😀 Untung dulu udah diajak kesana sama bu ririn.🙂
    Btw bu, ini ada kalimat: iasanya bangku itu digunakan masyarakat sekitar untuk didis. Opo iku didis bu?? kosakata bhs indonesia baru ta?? jiahahahaha😀

    • he he he…didis ya… didis itu..duduk berdua..yang satu berada dibelakang yang lain dengan posisi yang lebih tinggi sedikit..yang di depan membelakangi yang di belakang..he he he.. yang dibelakang biasanya tangannya ada di atas kepala orang yang ada di depannya..he he he..cari kutu…kutu rambut.. xi xi xi…soalnya definisi kegiatan cari kutu tidak detil diekspresikan dalam 1 kata dalam bahasa Indonesia..kali 2 kata : cari kutu…xi xi xi…

  3. Waduh segitunya ternyata cintanya Bu Ririn sama Kalimas..jd mengerti..:) Ayo bu kapan-kapan ke bangku situ, nanti saya foto Bu ririn duduk di situ..
    Semoga yg dicita-citakan tercapai🙂

    • ayo, bu..xi xi xi…nanti kita bareng2 aja..he he he..ada beberapa pilihan waktu. pagi atau sore. kalo pagi areal disitu gak nikmat. jadi pasar. kalo sore lebih asyik…adem… pilihan hari..juga jangan sabtu minggu. banyak truk parkir disitu.mbencekno.🙂

  4. beberapa wkt lalu pernah nemu yang namanya Asiatique The Waterfront di Thailand bu, (web nya di sini http://www.thaiasiatique.com/index.php/th) itu juga awalnya areal pergudangan yang diubah jadi pusat keramaian. Wkt baca itu saya kebayang deretan gudang di kalimas mendekati jembatan petekan itu, kalo dibuat seperti di Thailand itu pasti bagus, sekalian rel tram yang ada di depan pergudangan itu dimunculkan & diaktifkan lagi, bisa keliling dari area itu sampe ampel, perkampungan arab juga, itu harusnya jalur tremnya nyambung semua kok di area itu, tinggal direvitalisasi lagi pasti lebih unik karena ada sisi sejarahnya

    • waa…seneng sekali ada yang setuju dengan ide kawasan wisata untuk koridor Kalimas. mmg pak, ide itu rasanya tak sabar u bisa diwujudkan. sayang pemkot tidak bisa menelusur para pemilik bangunan yang meninggalkan bangunannya begitu saja. dan masih belum punya strategi yang nyaman buat semua untuk mengeksekusi bangunan-bangunan yang ditinggalkan ini. apalagi ada pabrik minyak disitu. tentu sulit untuk mengajaknya berkompromi. begitulah. trimakasih banyak atas kirimannya, pak. membuat saya semakin bersemangat untuk menggali lebih dalam hubungan antara konservasi sungai dan bangunan kuno yang ada di tepiannya, sebagai kesatuan cikal bakal kota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s